Minggu, 06 Maret 2011

Ode untuk Sang Puisi

(I)
tak ada yang lebih indah daripada puisi--
ia menjelmakan sesuatu yang tak bertutur,
ia membahasakan batu yang tak berbicara,

ah! tidak ada yang lebih indah
     daripada puisi yang menjadikan
     segalanya berkata-kata

(II)
duhai puisi yang berbicara
     tentang segala yang tersembunyi
: engkau memesona seluruh mataku
     yang terlelap

duhai puisi
: kata-kata makna, dan indahnya,
     semesta terekam bahasamu

bagiku kau rahsia

(III)
apakah puisi dapat membahasakan bibirmu
     yang terbungkam?

; kulihat ia membelai rambutmu lembut,
selembut angin musim panas yang bertiup
     di sela-sela dahan dan serat daun

mungkinkah sang puisi menjadi pengantar tidurmu
     di malam hari?

; kudengar ia bersenandung tentang keindahan
     suatu tempat, mungkin ladang rumput
     yang luas
ia bernyanyi di samping kedua telingamu
: mendendangkan romansa malam
     bersama rintik hujan yang juga membawa harum tanah
--tak lupa kita pada kematian

(IV)
menjulang tinggi;
melayang langit
menjejak tanah-tanah api
;
menghirup udara
menghentak nafas
meniup sangkakala

(V)
puisi, puisi,
benarkah kita akan bertemu malam penuh bintang
     juga sinarnya?

puisi, puisi,
sungguh benar aku rindu
     pada kelopak mata langit malam

puisi, puisi,
aku jatuh cinta

(VI)
daun-daun itu, puisiku,
berbicara tentangmu dengan lembaran-lembarannya,
     juga akar-akarnya,

sedang embun dan kabut pagi;
menyapa daun-daun itu dengan meminjam-mu

; apakah sungai yang mengalir di seberang rumah itu
     menggemericikkan suara-suara-mu, puisiku?
sebab yang berhidung mancung itu,
     yang berambut ikal di sana,
     yang ujung rambut kepalanya mengenai atap itu,
     yang sedang saling menggenggam tangan di sana, di bawah pohon itu,
sedang menyanyikan dan menyuarakanmu,

(VIII)
sesungguhnya yang terlihat ialah tak terlihat,
maka berteriaklah sekeras-kerasnya, puisiku,
suarakanlah sampai ia--yang tak terlihat
     menjadi terlihat,

sejatinya yang nyata adalah tak nyata,
lalu menjelmalah, puisiku,
ibarat musim yang selalu berubah bentuk,

(IX)
akhirnya... bersatulah para semesta,
     menjelmalah dan bersuaralah,

 
A.M.A
Jakarta-Depok, 15 Februari - 01 Maret 2011