Dahulu kala, di sebuah desa yang sangat indah. Di desa itu terhampar ladang hijau yang luas. Ladang hijau itu membentuk tingkatan seperti anak tangga. Seluruhnya hampir hijau dari atas sampai bawah, sampai batas desa. Anginnya pun bertiup semilir. Hingga burung-burung pun tak enggan untuk hinggap pada sebuah dahan untuk menikmati sejuknya angin yang bertiup.
Di desa itu hiduplah ketiga kakak-beradik. Ibu mereka sudah lama meninggal, kini mereka hanya hidup dengan ayah mereka. Dari ketiganya, hanya si bungsulah yang rajin dan patuh kepada ayahnya. Setiap harinya si sulung, lelaki, hanya bermain ke luar rumah dengan teman-temannya dan meninggalkan tugasnya, memotong kayu bakar dan menyiangi padi.
Sedangkan anak yang kedua, perempuan, pun tak jauh berbebda dengan si sulung. Setiap harinya anak yang kedua ini selalu bangun siang dan tak pernah melakukan tugasnya untuk mengisi tempayan air dan memasak. Bangunnya selalu setelah ayam berkokok, malah tak jarang saat matahari sudah berada di ubung-ubun kepala, tapi dia selalu menggerutu ketika belum ada makanan yang tersedia. Setelah mandi dan makan, ia langsung menyelonong pergi, entah ke mana.
Alhasil, si bungsulah, lelaki, yang mengerjakan pekerjaan mereka dari pagi hingga malam. Si bungsu hanya menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas yang panjang melihat kelakuan kedua kakaknya itu. Namun dia ikhlas mengerjakan itu semua. Teramat ikhlas mungkin. “Untuk Ayah,” gumamnya dalam hati.
Ayah? Ya, Ayah mereka sudah lama sekali terjangkit sakit yang teramat keras dan tidak ada obat penolongnya. Hingga tabib manapun sudah menyerah untuk menangani penyakit yang mendiami tubuh Ayah kakak-beradik itu. Sampai-sampai tabib yang terakhir memprediksikan hidup Ayah mereka sudah tak lama lagi.
Suatu hari apa yang menjadi prediksi sang tabib terjadi. Ayah mereka menghembuskan nafas terakhirnya di saat ketiga kakak-beradik itu sedang tidak ada di rumah. Barulah sore hari, saat si bungsu pulang dari hutan sepulang mencari kayu bakar, ia menemukan Ayahnya sudah tak bernafas lagi. Malamnya kegemparan pun terjadi di rumah yang sederhana itu.
Malam pun berganti pagi. Menggantikan waktu yang telah tiada lagi. Angin bersiut di desa itu membawa kabar tentang duka ketiga kakak-beradik itu. Berbondong warga desa membantu proses pemakaman Ayah dari kakak-beradik itu. Dari biaya proses pemandian hingga pemakamam semua ditanggung oleh warga desa karena memang ketiga anak yang telah yatim-piatu itu tidak punya uang sama sekali. Mereka hanya mempunyai satu rumah, sepetak ladang, dan satu kucing kampung peliharaan si bungsu.
Malamnya, setelah semua kesibukan selesai. Setalah Ayah ketiga orang itu telah dimakamkan. Dan setelah semua warga desa telah kembali ke rumahnya masing-masing. Sulung, anak kedua dan si bungsu berkumpul di halaman belakang.
“Dengar baik-baik, karena aku anak laki-laki pertama Ayah,” mulai si sulung, “aku akan mengambil rumah yang sekecil jangkrik ini.”
“Apa!?” sanggah sang anak kedua sambil menggebrak dinding rumah, “jika kau mendapat sesuatu yang sebesar jangkrik ini. Kalau begitu apa yang kudapat?”
“Kamu ‘kan ingin ladang, ambil saja bagianmu itu,” bentak si sulung.
“Siapa bilang aku ingin ladang, aku mau rumah ini.”
Mendengar itu, si sulung seketika berdiri dan tambah keras membentak adiknya, “Tidak! Kakak tertua yang berhak membaginya! Seharusnya kamu berterima kasih!”
“Memangnya apa jabatan kakak!?” anak kedua juga berdiri, balas membentak. Lalu pertengkarang hebat pun tak dapat terelakkan di antara keduanya. Pertengkaran antara kakak-beradik yang tak seharusnya tak terjadi.
Melihat kedua kakaknya yang bertengkar, si bungsu hanya menghela nafas sedalam-dalamnya. Ia hanya bergumam dengan pelan, “dunia memang sudah gila.” Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini, begitulah kira-kira yang ada di dalam hati si bungsu.
Sambil menggendong kucing kampung kesayangannya ia beranjak perlahan dari tempat itu, seakan-akan tak ingin diketahui oleh kedua kakaknya. Tak lupa ia membawa sepatu boot yang selalu ia pakai, ke ladang, ke hutan, ke manapun ia pergi. Maka ia pun pergi tanpa meninggalkan pesan sama sekali, tanpa mengucap pamit.
Si bungsu melewati malam yang dingin itu hanya berdua dengan kucing kesayangannya. Dingin menerpa kulitnya yang masih muda. “Kenapa aku lupa membawa baju hangatku. Ah, terkutuk.” Seumur hidup si bungsu itu, baru kali ini ia mengumpat kata-kata kasar, entah kenapa. Tapi memang di malam yang ganas itu, si bungsu hanya memakai selembar baju tipis bekas kakak sulungnya.
Semakin tinggi rembulan menyapa malam, semakin erat pula kucingnya ia peluk. Semakin dekap. Semakin erat. Dan salju turun perlahan dari langit yang hitam.
“Sial!” umpat si bungsu lagi.
Beruntung sebelum salju semakin deras menerapa, ia menemukan sebuah goa di ujung desa. Di perbatasan desanya dengan desa lain. Cepat-cepat si bungsu berlari menuju goa itu.
“Malam ini kita tidur di sini dulu ya, Pus,” gumamnya kepada sang kucing yang berada di pelukan. Tak lama ia pun terlelap dalam tidur yang nyenyak.
*****
“Umang… Umang… Umang. Lihat ke belakangmu.”
“Puspus?”
“Ya, benar. Aku Puspus.”
“Apakah aku bermimpi?”
“Tidak Umang. Kau tidak bermimpi. Aku memang Puspus. Sebenarnya aku adalah kucing peliharaan dewa yang lari dari khayangan karena sudah bosan dengan kehidupan di sana. Aku tersesat di hutan dan kau memungutku. Setiap hari kau merawatku dan memberiku makan. Kali ini aku akan membalas budi baikmu.”
“Bermimpikah aku?”
“Tidak, Umang. Kau tidak bermimpi.”
“Lebih baik aku pejamkan mataku lagi. Siapa tahu aku akan terbangun dari mimpiku ini.”
“Terserah kau saja, Umang yang baik. Tapi bolehkan aku meminjam sepatu bootmu itu?”
“Terserah kau sajalah. Aku ingin tidur lagi!”
“Terima kasih, Umang yang baik. Aku pergi dulu.”
“Ya! Pergi sana!”
Puspus pun pergi meninggalkan Umang yang masih percaya bahwa semua ini bukanlah mimpi. Ia pergi menuju hutan. Hutan yang lebat dan penuh akan bahaya yang mengancam, tapi Puspus tak pernah takut, karena ia sudah biasa melakukannya dengan Umang, setiap hari. Terlebih ia adalah kucing dewa yang memiliki banyak kesaktian.
Sesampainya di hutan, ia celingukan mencari sarang kelinci. Ia tak perlu bersusah payah untuk mencari sarang kelinci itu, karena terlihat sangat jelas sebuah lubang yang di depannya berkumpul kelinci-kelinci.
Ia hampiri seekor kelinci yang sedang menyendiri, yang sedang memakan wortel yang sudah ranum. Dengan bahasa binatang ia menyapa kelinci itu, “Hai, Kelinci.”
“Hai, Kucing. Nyam… nyam… nyam.” Sambil terus melahap wortel yang terlihat lezat sekali.
“Siapa namamu, wahai kelinci yang yang cantik?” tanya Puspus.
“Namaku Shangrila. Nyam… nyam… nyam. Siapa namamu? Kamu mau wortel?”
“Tidak terima kasih.”
“Ya sudah kalau tidak mau. Nyam… nyam.. nyam.”
“Kamu tidak bosan makan wortel terus?”
“Bosan soh. Nyam… nyam… sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada makanan lain di hutan ini, nyam… nyam… selain wortel.”
“Maukah kau ikut aku ke kerajaan. Di sana kau bisa mendapatkan makanan apa pun yang engkau mau.”
“Nyam… nyam… Benarkah?”
“Benar! Asal kau mengikuti semua perintahku.”
“Baiklah. Nyam… nyam.”
“Ayo kita pergi.”
“Ayo. Nyam… nyam.”
Singkat cerita kedua binatang itu, kucing dan kelinci, pergi dari hutan menuju istana yang ada di dekat perbatasan. Menemui raja termahsyur di antara raja-raja mana pun. Sampai raja setan pun takut padanya.
Sebelum memasuki gerbang istana, Puspus, si kucing dewa mengubah dirinya menjadi seperti manusia biasa. Dan memasukkan kelinci yang bernama Shangrila tersebut ke dalam sebuah karung berwarna hijau.
Karena memakai pakaian yang serba mewah, Puspus langsung dipersilakan untuk bertemu dengan sang raja. “Hamba memberi hormat pada Baginda,” ujar Puspus di hadapan raja.
Seperti raja-raja yang lainnya, raja itu menerima para tamunya dari singgasana yang ada di ruang pertemua. Raja lalu bertanya kepada Puspus, “ada urusan apa wahai engkau sang utusan. Siapa namamu?”
Dengan sigap Puspus langsung menunduk di hadapan raja dan meneruskan maksudnya, “maaf beribu maaf Baginda. Nama hamba Puska, utusan Pangeran Umang. Saya membawa hasil perburuan Pangeran Umang, seekor kelinci Shangrila untuk Baginda.”
“Benarkah? Coba kulihat.”
Mendengar itu, Puspus langsung mengeluarkan kelinci dari karung yang dipanggulnya itu. “Ini kelincinya, Baginda.”
“Seperti kelinci biasa.”
“Memang terlihat seperti kelinci biasa, tapi jika Baginda memerintah untuk melakukan hal yang Baginda minta, pasti ia akan melakukannya,” sanggah Puspus yang mengaku dirinya sebagai Puska itu.
“Benarkah?”
“Hamba tidak bohong, Baginda. Tapi setelah kelinci selesai melakukan apa yang Baginda perintah, Baginda harus menyiapkan berbagai macam buah untuknya.”
“Pelayan siapkan buah-buahan!” titah sang raja kepada para pelayannya, “dan jangan lama!”
Tak lama kemudia ia bermacam-macam buah datang di ruang pertemuan. Pisang, apel, jeruk, anggur. Semuanya buah-buahan yang terlihat segar dan mahal.
“Kelinci, menarilah!” perintah Baginda. Maka kelinci Shangrila itu pun menari. Meskipun tanpa musik, kelinci itu melenggak-lenggokkan tubuhnya yang mungil itu dengan luwe. Ia membuat telinganya yang panjang seolah-olah ikut menari dan beria.
Baginda Raja terkagum-kagum dibuatnya. Mata Baginda Raja tak berkedip sedikit pun. Ia tak mau melepaskan pandangannya dari tarian kelinci Shangrila. Setelah tarian selesai, Baginda Rajalah yang bertepuk tangan paling keras di antara orang-orang yang ada di ruang pertemuan itu.
“Puska. Sampaikan rasa terima kasihku kepada Tuanmu. Ini benar-benar hadiah yang istimewa. Katakan juga padanya, aku ingin bertemu dengannya. Juga aku mengundang Tuanmu itu, Pangeran Umang untuk datang ke pesta yang kami adakan di dekat nanti sore. Jangan lupa, Puska.”
Sambil menunduk, Puska, “akan saya sampaikan padanya, Baginda Raja.”
Dengan cara itulah, Puska atau Puspus, kucing dewa peliharaan Umang, mengambil hati sang raja termahsyur di antara para raja. Ia pun kembali ke goa tempat Tuannya, Umang, beristirahat.
Sudah dari jauh Puspus merubah dirinya menjadi kucing kembali. Ia takut jika Umang melihat dirinya dalam sosok manusia, Umang akan lebih tidak percaya dan pingsan. Dari kejauhan, Puspus melihat Umang duduk termenung di atas batu di depan goa yang besarnya melebihi ukuran manusia manapun.
Ketika dekat, Puspus berjalan kembali dengan keempat kakinya. Ia pikir mungkin dengan cara perlahan ia akan memberitahu Umang tentang semua kenyataan ini. “Puspus!” teriak Umang ketika melihat Puspus sedang berjalan sendirian.
“Puspus!” Dia lalu berlari menghampiri kucing kesayangannya. Kucing dewa. “Ke mana saja kau kucing nakal,” Umang merangkulnya, “kukira kau tersesat di hutan dan hilang.” Puspus hanya mengeong di rangkulan Tuannya. Ia menjilati pipi tuannya yang basah akan airmata.
Umang pun kemudian membawa Puspus ke mulut goa. “Puspus. Puspus,” Umang bicara lagi, “kau membuatku khawatir, Pus.” Puspus hanya mengeong sambil menggaruk-garuk kepala dengan cakar kanannya.
“Pus, tadi aku mimpi aneh,” Umang berbicara lagi kepada Puspus. “Aku bermimpi kau bisa bicara… Hahaha,” Umang tertawa lepas sekali. “Masa kucing bisa bicara… Hahaha,” Umang tertawa lagi.
Puspus lompat dari rangkulan Umang, Tuannya. Ia berlari ke arah barat. “Hei, Pus! Berhenti!” teriak Umang. Akan tetapi Puspus tak peduli dengan perintah Tuannya. Ia terus berlari menuju barat, entah ke mana. Mau tak mau Umang mengejarnya dengan sekuat tenaga.
Ternyata Puspus berlari ke arah sungai yang berada di ujung desa. Sungai tempat diadakan pesta oleh Baginda Raja yang termahsyur. “Hei, Pus!” Umang masih berteriak dengan nafas yang tersengal karena lelah berlari. “Pus!”
Di bantaran sungai, tiba-tiba saja Puspus berhenti mendadak. Tapi laju Umang yang sedari tadi berlari sangat cepat untuk mengejar Puspus, kucingnya, tidak dapat dihentikan. Karena itu Umang pun tercebut ke dalam sungai yang arusnya tak deras. Untung saja Umang pandai berenang. Dia pun menuju tepian sungai, tempat Puspus berada.
“Ini semua gara-gara kau, Pus!”
“Maafkan Hamda, Tuanku.” Puspus kembali bersujud di hadapan Umang.
“Pasti ini mimpi lagi. Sss… si… siapa kau sebenarnya?” dengan tergagap Umang menunjuk-nunjuk Puspus yang berada di hadapannya.
“Sedari tadi Tuanku tidak bermimpi. Saya memang kucing peliharaan dewa yang kabur dari khayangan.”
“B… bbo… bohong! Ini pasti mimpi. Aaahhh!” teriak Umang.
“Hamba tidak bohong, Tuanku Umang.”
Seakan tidak percaya atas keadaan ini, Umang menjenggut rambutnya sekencang-kencangnya. Tak lama kemudian dirinya berteriak hingga burung-burung yang daritadi hingga tenang di dahan-dahan pohon berterbangan. Ketakutan. Lari tunggang langgang menyelamatkan diri mereka masing-masing.
“Baik! Apa buktinya jika kau tidak berbohong!?” tanya Umang kemudian.
“Sebentar lagi di dekat sungai ini akan diselenggarakan pesta tari oleh Raja Urka.”
“Raja Urka? Bukankah dia raja termahsyur di antara raja-raja mahsyur di negeri ini?” tanya Umang heran.
“Benar, Tuanku, dan Hamba sudah bertemu dengan beliau dan telah mempersembahkan hadiah yang istimewa. Hamba katakana dari Pangeran Tuanku Umang.”
“Pangeran? Bah! Baju saja hanya ini yang kupakai. Dari mana aku punya puri? Pakai bilang pangeran segala kau, Pus!” hardik Umang sambil melepas pakaian satu-satunya yang basah kuyup.
“Tuanku Umang tenang saja. Hamba sudah merencanakan semuanya dengan matang… Ssst, itu rombongan kerajaan datang. Lebih baik Tuangku Umang bersembunyi dahulu dan lepas semua pakaian Tuanku ke sungai.”
“Hah!” Umang sangat Heran.
“Untuk sementara ini lebih baik Tuanku Umang ikuti saja dulu permainanku. Nanti Tuanku akan tahu sendiri ke arah mana akan kutulis cerita ini.”
“Terserah kau sajalah, Pus.”
Umang pasrah atas semua keadaan yang sedang terjadi. Kucing bisa bicara dan berdiri dengan dua kaki. Dunia memang sudah gila, pikir Umang. Dan ah… ah… si Puspus berubah ujud menjadi manusia biasa. Sekejap mata Umang pun terbelalak melihat itu. Umang terpana.
“Tuangku Umang tak usah heran melihat ini semua. Tadi aku sudah katakana bahwa aku kucing peliharaan dewa. Jadi aku bisa lakukan apa yang aku mau.”
“B… bb… baiklah.” Umang tergagap lagi.
“Cepatlah Tuanku bersembunyi.”
Mendengar itu Umang langsung mencari tempat persembunyian yang tak jauh dari tempat Puspus berdiri. Maksudnya supaya tidak terlalu jauh dan supaya dapat lebih cepat keluar apabila terjadi apa-apa.
Sudah dari jauh rombongan kerajaan datang berbondong-bondong, lengkap dengan perlengkapan pestanya. Puspus atau Puska dengan terengah-engah, seolah-olah dikejar sesuatu mendekati rombongan kerajaan sambil berteriak, “Raja! Raja!” Sebelum sampai diri Puska ke hadapan raja, ia di hadang oleh kedua penjaga raja.
“Berhenti!” bentak mereka berdua, “mau apa kau?”
“Aku mau bertemu dengan Baginda Raja,” jawab Puska dengan nafas yang tersengal.
“Engkau siapa?”
Tak peduli dengan kedua penjaga itu, Puska berteriak dengan sekencang-kencangnya, “Raja! Raja! Hamba Puska yang tadi pagi membawakan persembahan kelinci Shangrila!”
Mendengar hal tersebut, sang raja sontak keluar dari keretanya. “Puska!”
“Hamba Baginda Raja,” Puska memberi hormat.
“Berdirilah!” perintah sang raja, “ada apa gerangan engkau datang kemari. Bukankah pesta baru akan dimulai nanti sore?”
“Sebelumnya hamba ucapkan maaf beribu maaf sudah mengganggu Baginda Raja,” Puska memulai pembicaraan. “Awalnya, hamba dan Tuanku hendak pergi ke kerajaan Baginda untuk bertamu dan berbincang-bincang. Namun naas, di tengah perjalanan, hamba dan Tuanku dijegat oleh kawanan perampok.”
“Aku turut berduka mendengar itu semua. Sunggu para perampok bajingan. Hmm… lalu di mana Tuanmu itu, Puska?”
“Beliau berada di balik pohon-pohon sebelah sana, Baginda. Beliau tidak mengenakan pakaian, karena semua barang bawaannya diambil oleh para perampok, termasuk pakaiannya.”
“Pelayan! Tolong kemari sebentar.”
Dengan cepat dua orang pelayang datang ke arah sang raja. Di hadapan raja itu mereka menunduk dan memberi hormat, “Hamba Baginda Raja.”
“Tolong kalian siapkan pakaian yang pantas untuk Pangeran Umang,” sang raja kepada kedua pelayan itu. Dengan cepat mereka berlalu dan mempersiapkan segala yang diperintah sang raja.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya hamba ucapkan kepada Baginda,” Puska pun menyembah sag raja lagi.
Bagi para pelayan perintah raja sama dengan hidup-mati mereka. Sebisa mungkin harus cepat dikerjakan. Secepat mungkin perintah itu harus cepat diselesaikan. Dengan secepat kilat pun baju yang harus disiapkan mereka pun telah jadi. Mereka berdua membawa baju pesanan itu ke hadapan sang raja.
“Baginda Raja, pesanan bajunya telah siap,” hormat kedua pelayan itu.
“Baiklah. Tolong bawakan untuk Pangeran Umang yang berada di balik pohon-pohon sana. Sampaikan juga pada dia untuk segera ke sini.” Kepada Puska dia bersabda, “Puska, tolong antar pelayang-pelayanku ke tempat Tuanmu.”
“Hamba Baginda Raja.”Mereka bertiga pergi ke arah pepohonan yang rimbun di sebelah barat, tak jauh dari tempat baginda raja.
Pakaian telah diserahkan kepada Umang. Tak lupa Umang mengucapkan terima kasih kepada kedua pelayan itu. Setelah pakaian selesai dikenakan oleh Umang dan mempersiapkan diri sedikit, dirinya beranjak dari tempat itu ke tempat rombongan kerajaan, berdua bersama Puska.
Di hadapan sang raja, Umang bersujud dan memberi hormat kepada sang raja. Berulang kali dirinya mengucapkan terima kasih atas pertolongan raja. “Jika bukan karena Baginda raja, mungkin hamba tidak akan berpakaian lagi selamanya,” tambahnya sambil masih bersujud.
“Bangunlah Pangeran Umang,” titah raja kepada Umang yang kini telah menjadi pangeran. “Kau memang seorang yang memiliki sopan santun yang tinggi. Jarang kutemui pangeran sepertimu,” ujar raja. “Biasanya pangeran-pangeran yang kukenal teramat sombong dan angkuh. Padahal kekayaan mereka milik orangtua mereka yang menjadi raja, bukan milik mereka.”
Saat Umang bangkit dari sujudnya, kedua matanya seketika bertemu kedua mata milik putri raja yang cantik. Ya, mata mereka bertemu satu sama lain… Agak lama. Keduanya sama-sama terkesima dan pipi mereka memerah.
“Pangeran Umang,” tegur raja. Tapi Umang masih terkagum-kagum melihat kecantikan putri raja itu. “Umang!” kali agak keras.
“M… mm… maaf Baginda Raja. Hamba barusan sedang melamun.”
Terserah kau mau beralasan apa, tapi aku tahu kau pasti sedan memperhatikan putriku, begitulah kira-kira dalam hati sang raja sambil tersenyum. “Mari kita ke taman sana untuk berbincang-bincang lebih dalam,” ajak raja kepada Pangeran Umang.
Jika ditanya sebelah mana purimu, jawab saja puri sebelah selatan perbatasan, biar hamba yang mempersiapkan semuanya. Begitulah yang ditulis Puska kepada Umang di secarik kertas.
“Mari, Puska, kau juga ikut,” ajak raja kepada Puska.
“Maaf Baginda, bukan hamba tidak mau. Namun hamba harus melapor ke kerajaan tentang kejadian perampokan tadi,” hindar Puska.
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan.”
Puska pamit dan dengan segera pergi menuju ke arah selatan, tempat sebuah puri besar berada. Dengan kekuatan dewanya dia melesat dengan cepat, secepat angin, ke puri itu. Untuk mempersiapkan segalanya.
*****
Ternyata puri yang berada di selatan itu milik raja setan. Anak dari raja penjaga pintu neraka. Sesampainya di puri itu, di gerbang masuk, Puska dihadang oleh empat pengawal kerajaan. Ia ditanyai hendak bertemu siapa dan ada keperluan apa. Akan tetapi tanpa ba bi bu, dengan kekuatan dewanya ia langsung menyihir keempat penghadang itu menjadi empat buah semut kecil yang tak berdaya. Setelah itu, ia langsung melesat menuju ruang utama. Ruang di mana berada sang raja setan yang hendak ditemuinya.
“Hamba memberi hormat kepada Tuanku.”
“Hohoho… Siapakah gerangan dirimu wahai manusia hina? Hahaha….” Sang raja setan itu terbahak-bahak melihat manusia sedang berada di hadapannya. “Apa kau mau menyerahkan dirimu untuk dimakan? Hahaha….”
“Bukan begitu, Tuanku. Hamba datang kemari untuk menjadi abdi dari Tuanku Yang Mulia.”
“Begitukah? Hohoho….”
“Benar, Tuanku.”
“Apa raja manusia sudah tidak mampu memberimu apa-apa lagi sehingga kau mau menyembahku? Hahaha….” Sang raja setan tertawa lagi, kali ini agak lama dan keras.
“Begitulah kira-kira, Tuanku. Hamba sudah muak diperbudak oleh manusia-manusia yang bodoh itu.”
“Hahaha…. Baiklah. Baiklah. Hahaha….”
“Tapi sebelumnya maaf beribu maaf, Tuanku… Bolehkah hamba melihat sedikit kemampuan Tuanku?”
Mendengar itu sang raja setan murka dan naik pitam. Ia langsung berdiri dan menghardik Puska, “Apa kau tidak yakin akan kekuatanku, hei manusia hina?”
Masih dalam keadaan bersujud Puska menjawan, “bukan begitu yang hamba maksud, Tuanku. Hamba takut menyesal lagi di belakangny, Tuanku.”
“Hohoho… Begitu rupanya. Hmmm… Baiklah. Kesaktian apa yang mau kau lihat?”
“Bagaimana jika kesaktian merubah diri?”
“Itu hal mudah bagiku. Menjadi singa?” Mendadak tubuh raja setan berubah ujud menjadi singa yang besar dan berbulu lebat. Ia mengaum layaknya singa sebenarnya. “Hahaha… Bagaimana menurutmu?”
“Hebat sehebat-hebatnya, kesaktian yang Tuanku miliki. Tapi bagaimana dengan ujud kecoa?”
“Kecoa? Terlalu mudah bagiku. Tapi baiklah.” Seketika diri raja setan itu berubah bentuk lagi. Dari ujud singa yang besar menjadi kecoa yang kecil dan hitam. “Hahaha… bagaimana menurutmu?”
“Sangat hebat, Tuanku. Tapi akhir hidupmu hanya sampai di sini. Selamat tinggal raja setan.” Dengan cepat Puska menginjak raja setan yang sedang berbentuk kecoa itu. Tubuh raja setan itu langsung hancur. Mengucurkan darah segar, berwarna biru. Sebelum akhir hayatnya, raja setan itu sempat berteriak kesakitan. Tak lama nyawanya melayang menuju akhirat. Mungkin ke neraka, bertemu dengan Ayahnya.
Puska kembali memakai kekuatannya untuk melepaskan manusia-manusia yang ditawan oleh raja setan. Para manusia itu pun berjanji untuk menjadi abdi setia Pangeran Umang. Dengan kesaktiannya, Puska merubah segala warna hitam istana menjadi warna putih, warna kesucian. Dan dihiasinya dengan pernak-pernik apik yang tak pernah ditemui di dunia.
Malamnya, ada serombongan datang ke puri itu. Itulah rombongan raja dan Pangeran Umang. Rombongan itu disambut meriah dengan segala macam hidangan. Juga hiburan yang belum pernah sang raja saksikan di belahan negeri manapun. Raja terkagum melihat itu semua. Begitu pula putrinya, yang telah menaruh hati pada Umang… Pangeran Umang.
“Umang…” sang raja memulai. “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu yang telah menyambutku dengan demikian meriah dan megah. Entah harus aku balas dengan apa.”
“Tak usah sungkan Baginda. Hamba tadi juga sudah ditolong oleh Baginda, inilah balasan hamba kepada Baginda,” balas Umang tenang.
“Pangeran Umang… Mungkin terlalu cepat jika aku berkata begini. Tapi mau tak mau harus kuutarakan juga.”
“Ada apakah gerangan, Baginda Raja?”
“Putriku Umang, Anna, dia mencintaimu. Dan ingin aku melamarmu untuknya.”
Mendengar perkataan itu kedua pipi Umang memerah. Dia tertunduk malu dan agak lama membisu. Setelah dicolek oleh Puska, barulah mulutnya mengeluarkan sepatah kata.
“Nngg… Baginda. Sebenarnya hamba juga jatuh cinta kepada putri Baginda sejak pertama bertemu. Entah kenapa hati ini berdebar kencang ketika mataku bertatapan dengan matanya. Mulanya aku mengurungkan cintaku ini… Namun sekarang tidak lagi. Cintaku telah berbalas,” kini terlukis senyum di muka Umang. Hati Umang kini merasakan bahagia yang teramat-sangat. Baru kali ini dia merasakan bahagia sebegitu besarnya. Keajaiban apa yang Kau berikan, Tuhan, dalam hati Umang.
Singkat cerita jamuan malam itu diselingi pernikahan Pangeran Umang dengan Putri Anna. Sang putri berwajah cantik dan jelita. Pangeran Umang juga memiliki ketampanan yang rupawan. Keduanya bagai dewa-dewi khayangan yang turun ke bumi.
Akhirnya mereka berdua hidup bahagia di puri yang bernama Kencana itu. Mereka sama-sama berikrar akan saling mencintai sampai rambut mereka memutih.
“Sudah… sudah malam. Ayo tidur!” perintah sang ibu kepada anaknya yang berada di pelukan.
“Iya, Ibuku sayang. Tapi nyanyiin lagu nina bobo ya… ya… ya,” sang anak masih merajuk. Kedua tangannya menarik-narik salah satu lengan ibunya yang menopang kepala sang anak.
“Iya. Iya. Sini lebih dekap ke Ibu.” []
A.M.A
Jakarta, 26-27 Januari 2011