Rabu, 26 Januari 2011

Dongeng Kucing Dewa dan Tuannya

Dahulu kala, di sebuah desa yang sangat indah. Di desa itu terhampar ladang hijau yang luas. Ladang hijau itu membentuk tingkatan seperti anak tangga. Seluruhnya hampir hijau dari atas sampai bawah, sampai batas desa. Anginnya pun bertiup semilir. Hingga burung-burung pun tak enggan untuk hinggap pada sebuah dahan untuk menikmati sejuknya angin yang bertiup.

     Di desa itu hiduplah ketiga kakak-beradik. Ibu mereka sudah lama meninggal, kini mereka hanya hidup dengan ayah mereka. Dari ketiganya, hanya si bungsulah yang rajin dan patuh kepada ayahnya. Setiap harinya si sulung, lelaki, hanya bermain ke luar rumah dengan teman-temannya dan meninggalkan tugasnya, memotong kayu bakar dan menyiangi padi.

     Sedangkan anak yang kedua, perempuan, pun tak jauh berbebda dengan si sulung. Setiap harinya anak yang kedua ini selalu bangun siang dan tak pernah melakukan tugasnya untuk mengisi tempayan air dan memasak. Bangunnya selalu setelah ayam berkokok, malah tak jarang saat matahari sudah berada di ubung-ubun kepala, tapi dia selalu menggerutu ketika belum ada makanan yang tersedia. Setelah mandi dan makan, ia langsung menyelonong pergi, entah ke mana.

     Alhasil, si bungsulah, lelaki, yang mengerjakan pekerjaan mereka dari pagi hingga malam. Si bungsu hanya menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas yang panjang melihat kelakuan kedua kakaknya itu. Namun dia ikhlas mengerjakan itu semua. Teramat ikhlas mungkin. “Untuk Ayah,” gumamnya dalam hati.

     Ayah? Ya, Ayah mereka sudah lama sekali terjangkit sakit yang teramat keras dan tidak ada obat penolongnya. Hingga tabib manapun sudah menyerah untuk menangani penyakit yang mendiami tubuh Ayah kakak-beradik itu. Sampai-sampai tabib yang terakhir memprediksikan hidup Ayah mereka sudah tak lama lagi.

     Suatu hari apa yang menjadi prediksi sang tabib terjadi. Ayah mereka menghembuskan nafas terakhirnya di saat ketiga kakak-beradik itu sedang tidak ada di rumah. Barulah sore hari, saat si bungsu pulang dari hutan sepulang mencari kayu bakar, ia menemukan Ayahnya sudah tak bernafas lagi. Malamnya kegemparan pun terjadi di rumah yang sederhana itu.

     Malam pun berganti pagi. Menggantikan waktu yang telah tiada lagi. Angin bersiut di desa itu membawa kabar tentang duka ketiga kakak-beradik itu. Berbondong warga desa membantu proses pemakaman Ayah dari kakak-beradik itu. Dari biaya proses pemandian hingga pemakamam semua ditanggung oleh warga desa karena memang ketiga anak yang telah yatim-piatu itu tidak punya uang sama sekali. Mereka hanya mempunyai satu rumah, sepetak ladang, dan satu kucing kampung peliharaan si bungsu.

     Malamnya, setelah semua kesibukan selesai. Setalah Ayah ketiga orang itu telah dimakamkan. Dan setelah semua warga desa telah kembali ke rumahnya masing-masing. Sulung, anak kedua dan si bungsu berkumpul di halaman belakang.

     “Dengar baik-baik, karena aku anak laki-laki pertama Ayah,” mulai si sulung, “aku akan mengambil rumah yang sekecil jangkrik ini.”

     “Apa!?” sanggah sang anak kedua sambil menggebrak dinding rumah, “jika kau mendapat sesuatu yang sebesar jangkrik ini. Kalau begitu apa yang kudapat?”

     “Kamu ‘kan ingin ladang, ambil saja bagianmu itu,” bentak si sulung.

     “Siapa bilang aku ingin ladang, aku mau rumah ini.”

     Mendengar itu, si sulung seketika berdiri dan tambah keras membentak adiknya, “Tidak! Kakak tertua yang berhak membaginya! Seharusnya kamu berterima kasih!”

     “Memangnya apa jabatan kakak!?” anak kedua juga berdiri, balas membentak. Lalu pertengkarang hebat pun tak dapat terelakkan di antara keduanya. Pertengkaran antara kakak-beradik yang tak seharusnya tak terjadi.

     Melihat kedua kakaknya yang bertengkar, si bungsu hanya menghela nafas sedalam-dalamnya. Ia hanya bergumam dengan pelan, “dunia memang sudah gila.” Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini, begitulah kira-kira yang ada di dalam hati si bungsu.

     Sambil menggendong kucing kampung kesayangannya ia beranjak perlahan dari tempat itu, seakan-akan tak ingin diketahui oleh kedua kakaknya. Tak lupa ia membawa sepatu boot yang selalu ia pakai, ke ladang, ke hutan, ke manapun ia pergi. Maka ia pun pergi tanpa meninggalkan pesan sama sekali, tanpa mengucap pamit.

     Si bungsu melewati malam yang dingin itu hanya berdua dengan kucing kesayangannya. Dingin menerpa kulitnya yang masih muda. “Kenapa aku lupa membawa baju hangatku. Ah, terkutuk.” Seumur hidup si bungsu itu, baru kali ini ia mengumpat kata-kata kasar, entah kenapa. Tapi memang di malam yang ganas itu, si bungsu hanya memakai selembar baju tipis bekas kakak sulungnya.

     Semakin tinggi rembulan menyapa malam, semakin erat pula kucingnya ia peluk. Semakin dekap. Semakin erat. Dan salju turun perlahan dari langit yang hitam.

     “Sial!” umpat si bungsu lagi.

     Beruntung sebelum salju semakin deras menerapa, ia menemukan sebuah goa di ujung desa. Di perbatasan desanya dengan desa lain. Cepat-cepat si bungsu berlari menuju goa itu. 

     “Malam ini kita tidur di sini dulu ya, Pus,” gumamnya kepada sang kucing yang berada di pelukan. Tak lama ia pun terlelap dalam tidur yang nyenyak.

*****

     “Umang… Umang… Umang. Lihat ke belakangmu.”

     “Puspus?”

     “Ya, benar. Aku Puspus.”

     “Apakah aku bermimpi?”

     “Tidak Umang. Kau tidak bermimpi. Aku memang Puspus. Sebenarnya aku adalah kucing peliharaan dewa yang lari dari khayangan karena sudah bosan dengan kehidupan di sana. Aku tersesat di hutan dan kau memungutku. Setiap hari kau merawatku dan memberiku makan. Kali ini aku akan membalas budi baikmu.”

     “Bermimpikah aku?”

     “Tidak, Umang. Kau tidak bermimpi.”

     “Lebih baik aku pejamkan mataku lagi. Siapa tahu aku akan terbangun dari mimpiku ini.”

     “Terserah kau saja, Umang yang baik. Tapi bolehkan aku meminjam sepatu bootmu itu?”

     “Terserah kau sajalah. Aku ingin tidur lagi!”

     “Terima kasih, Umang yang baik. Aku pergi dulu.”

     “Ya! Pergi sana!”

     Puspus pun pergi meninggalkan Umang yang masih percaya bahwa semua ini bukanlah mimpi. Ia pergi menuju hutan. Hutan yang lebat dan penuh akan bahaya yang mengancam, tapi Puspus tak pernah takut, karena ia sudah biasa melakukannya dengan Umang, setiap hari. Terlebih ia adalah kucing dewa yang memiliki banyak kesaktian.

     Sesampainya di hutan, ia celingukan mencari sarang kelinci. Ia tak perlu bersusah payah untuk mencari sarang kelinci itu, karena terlihat sangat jelas sebuah lubang yang di depannya berkumpul kelinci-kelinci.

     Ia hampiri seekor kelinci yang sedang menyendiri, yang sedang memakan wortel yang sudah ranum. Dengan bahasa binatang ia menyapa kelinci itu, “Hai, Kelinci.”

     “Hai, Kucing. Nyam… nyam… nyam.” Sambil terus melahap wortel yang terlihat lezat sekali.

     “Siapa namamu, wahai kelinci yang yang cantik?” tanya Puspus.

     “Namaku Shangrila. Nyam… nyam… nyam. Siapa namamu? Kamu mau wortel?”

     “Tidak terima kasih.”

     “Ya sudah kalau tidak mau. Nyam… nyam.. nyam.”

     “Kamu tidak bosan makan wortel terus?”

     “Bosan soh. Nyam… nyam… sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada makanan lain di hutan ini, nyam… nyam… selain wortel.”

     “Maukah kau ikut aku ke kerajaan. Di sana kau bisa mendapatkan makanan apa pun yang engkau mau.”

     “Nyam… nyam… Benarkah?”

     “Benar! Asal kau mengikuti semua perintahku.”

     “Baiklah. Nyam… nyam.”

     “Ayo kita pergi.”

     “Ayo. Nyam… nyam.”

     Singkat cerita kedua binatang itu, kucing dan kelinci, pergi dari hutan menuju istana yang ada di dekat perbatasan. Menemui raja termahsyur di antara raja-raja mana pun. Sampai raja setan pun takut padanya.

     Sebelum memasuki gerbang istana, Puspus, si kucing dewa mengubah dirinya menjadi seperti manusia biasa. Dan memasukkan kelinci yang bernama Shangrila tersebut ke dalam sebuah karung berwarna hijau.

     Karena memakai pakaian yang serba mewah, Puspus langsung dipersilakan untuk bertemu dengan sang raja. “Hamba memberi hormat pada Baginda,” ujar Puspus di hadapan raja.

     Seperti raja-raja yang lainnya, raja itu menerima para tamunya dari singgasana yang ada di ruang pertemua. Raja lalu bertanya kepada Puspus, “ada urusan apa wahai engkau sang utusan. Siapa namamu?”

     Dengan sigap Puspus langsung menunduk di hadapan raja dan meneruskan maksudnya, “maaf beribu maaf Baginda. Nama hamba Puska, utusan Pangeran Umang. Saya membawa hasil perburuan Pangeran Umang, seekor kelinci Shangrila untuk Baginda.”

     “Benarkah? Coba kulihat.”
   
     Mendengar itu, Puspus langsung mengeluarkan kelinci dari karung yang dipanggulnya itu. “Ini kelincinya, Baginda.”

     “Seperti kelinci biasa.”

     “Memang terlihat seperti kelinci biasa, tapi jika Baginda memerintah untuk melakukan hal yang Baginda minta, pasti ia akan melakukannya,” sanggah Puspus yang mengaku dirinya sebagai Puska itu.

     “Benarkah?”

     “Hamba tidak bohong, Baginda. Tapi setelah kelinci selesai melakukan apa yang Baginda perintah, Baginda harus menyiapkan berbagai macam buah untuknya.”

     “Pelayan siapkan buah-buahan!” titah sang raja kepada para pelayannya, “dan jangan lama!”

     Tak lama kemudia ia bermacam-macam buah datang di ruang pertemuan. Pisang, apel, jeruk, anggur. Semuanya buah-buahan yang terlihat segar dan mahal.

     “Kelinci, menarilah!” perintah Baginda. Maka kelinci Shangrila itu pun menari. Meskipun tanpa musik, kelinci itu melenggak-lenggokkan tubuhnya yang mungil itu dengan luwe. Ia membuat telinganya yang panjang seolah-olah ikut menari dan beria.

     Baginda Raja terkagum-kagum dibuatnya. Mata Baginda Raja tak berkedip sedikit pun. Ia tak mau melepaskan pandangannya dari tarian kelinci Shangrila. Setelah tarian selesai, Baginda Rajalah yang bertepuk tangan paling keras di antara orang-orang yang ada di ruang pertemuan itu.

     “Puska. Sampaikan rasa terima kasihku kepada Tuanmu. Ini benar-benar hadiah yang istimewa. Katakan juga padanya, aku ingin bertemu dengannya. Juga aku mengundang Tuanmu itu, Pangeran Umang untuk datang ke pesta yang kami adakan di dekat nanti sore. Jangan lupa, Puska.”

     Sambil menunduk, Puska, “akan saya sampaikan padanya, Baginda Raja.”

     Dengan cara itulah, Puska atau Puspus, kucing dewa peliharaan Umang, mengambil hati sang raja termahsyur di antara para raja. Ia pun kembali ke goa tempat Tuannya, Umang, beristirahat.

     Sudah dari jauh Puspus merubah dirinya menjadi kucing kembali. Ia takut jika Umang melihat dirinya dalam sosok manusia, Umang akan lebih tidak percaya dan pingsan. Dari kejauhan, Puspus melihat Umang duduk termenung di atas batu di depan goa yang besarnya melebihi ukuran manusia manapun.

     Ketika dekat, Puspus berjalan kembali dengan keempat kakinya. Ia pikir mungkin dengan cara perlahan ia akan memberitahu Umang tentang semua kenyataan ini. “Puspus!” teriak Umang ketika melihat Puspus sedang  berjalan sendirian.

     “Puspus!” Dia lalu berlari menghampiri kucing kesayangannya. Kucing dewa. “Ke mana saja kau kucing nakal,” Umang merangkulnya, “kukira kau tersesat di hutan dan hilang.” Puspus hanya mengeong di rangkulan Tuannya. Ia menjilati pipi tuannya yang basah akan airmata.

     Umang pun kemudian membawa Puspus ke mulut goa. “Puspus. Puspus,” Umang bicara lagi, “kau membuatku khawatir, Pus.” Puspus hanya mengeong sambil menggaruk-garuk kepala dengan cakar kanannya.

     “Pus, tadi aku mimpi aneh,” Umang berbicara lagi kepada Puspus. “Aku bermimpi kau bisa bicara… Hahaha,” Umang tertawa lepas sekali. “Masa kucing bisa bicara… Hahaha,” Umang tertawa lagi.

     Puspus lompat dari rangkulan Umang, Tuannya. Ia berlari ke arah barat. “Hei, Pus! Berhenti!” teriak Umang. Akan tetapi Puspus tak peduli dengan perintah Tuannya. Ia terus berlari menuju barat, entah ke mana. Mau tak mau Umang mengejarnya dengan sekuat tenaga.

     Ternyata Puspus berlari ke arah sungai yang berada di ujung desa. Sungai tempat diadakan pesta oleh Baginda Raja yang termahsyur. “Hei, Pus!” Umang masih berteriak dengan nafas yang tersengal karena lelah berlari. “Pus!”

     Di bantaran sungai, tiba-tiba saja Puspus berhenti mendadak. Tapi laju Umang yang sedari tadi berlari sangat cepat untuk mengejar Puspus, kucingnya, tidak dapat dihentikan. Karena itu Umang pun tercebut ke dalam sungai yang arusnya tak deras. Untung saja Umang pandai berenang. Dia pun menuju tepian sungai, tempat Puspus berada.

     “Ini semua gara-gara kau, Pus!”

     “Maafkan Hamda, Tuanku.” Puspus kembali bersujud di hadapan Umang.

     “Pasti ini mimpi lagi. Sss… si… siapa kau sebenarnya?” dengan tergagap Umang menunjuk-nunjuk Puspus yang berada di hadapannya.

     “Sedari tadi Tuanku tidak bermimpi. Saya memang kucing peliharaan dewa yang kabur dari khayangan.”

     “B… bbo… bohong! Ini pasti mimpi. Aaahhh!” teriak Umang.

     “Hamba tidak bohong, Tuanku Umang.”

     Seakan tidak percaya atas keadaan ini, Umang menjenggut rambutnya sekencang-kencangnya. Tak lama kemudian dirinya berteriak hingga burung-burung yang daritadi hingga tenang di dahan-dahan pohon berterbangan. Ketakutan. Lari tunggang langgang menyelamatkan diri mereka masing-masing.

     “Baik! Apa buktinya jika kau tidak berbohong!?” tanya Umang kemudian.

     “Sebentar lagi di dekat sungai ini akan diselenggarakan pesta tari oleh Raja Urka.”

     “Raja Urka? Bukankah dia raja termahsyur di antara raja-raja mahsyur di negeri ini?” tanya Umang heran.

     “Benar, Tuanku, dan Hamba sudah bertemu dengan beliau dan telah mempersembahkan hadiah yang istimewa. Hamba katakana dari Pangeran Tuanku Umang.”

     “Pangeran? Bah! Baju saja hanya ini yang kupakai. Dari mana aku punya puri? Pakai bilang pangeran segala kau, Pus!” hardik Umang sambil melepas pakaian satu-satunya yang basah kuyup.

     “Tuanku Umang tenang saja. Hamba sudah merencanakan semuanya dengan matang… Ssst, itu rombongan kerajaan datang. Lebih baik Tuangku Umang bersembunyi dahulu dan lepas semua pakaian Tuanku ke sungai.”

     “Hah!” Umang sangat Heran.

     “Untuk sementara ini lebih baik Tuanku Umang ikuti saja dulu permainanku. Nanti Tuanku akan tahu sendiri ke arah mana akan kutulis cerita ini.”

     “Terserah kau sajalah, Pus.”

     Umang pasrah atas semua keadaan yang sedang terjadi. Kucing bisa bicara dan berdiri dengan dua kaki. Dunia memang sudah gila, pikir Umang. Dan ah… ah… si Puspus berubah ujud menjadi manusia biasa. Sekejap mata Umang pun terbelalak melihat itu. Umang terpana.

     “Tuangku Umang tak usah heran melihat ini semua. Tadi aku sudah katakana bahwa aku kucing peliharaan dewa. Jadi aku bisa lakukan apa yang aku mau.”

     “B… bb… baiklah.” Umang tergagap lagi.

     “Cepatlah Tuanku bersembunyi.”

     Mendengar itu Umang langsung mencari tempat persembunyian yang tak jauh dari tempat Puspus berdiri. Maksudnya supaya tidak terlalu jauh dan supaya dapat lebih cepat keluar apabila terjadi apa-apa.

     Sudah dari jauh rombongan kerajaan datang berbondong-bondong, lengkap dengan perlengkapan pestanya. Puspus atau Puska dengan terengah-engah, seolah-olah dikejar sesuatu mendekati rombongan kerajaan sambil berteriak, “Raja! Raja!” Sebelum sampai diri Puska ke hadapan raja, ia di hadang oleh kedua penjaga raja.
    
     “Berhenti!” bentak mereka berdua, “mau apa kau?”

     “Aku mau bertemu dengan Baginda Raja,” jawab Puska dengan nafas yang tersengal.

     “Engkau siapa?”

     Tak peduli dengan kedua penjaga itu, Puska berteriak dengan sekencang-kencangnya, “Raja! Raja! Hamba Puska yang tadi pagi membawakan persembahan kelinci Shangrila!”

     Mendengar hal tersebut, sang raja sontak keluar dari keretanya. “Puska!”

     “Hamba Baginda Raja,” Puska memberi hormat.

     “Berdirilah!” perintah sang raja, “ada apa gerangan engkau datang kemari. Bukankah pesta baru akan dimulai nanti sore?”

     “Sebelumnya hamba ucapkan maaf beribu maaf sudah mengganggu Baginda Raja,” Puska memulai pembicaraan. “Awalnya, hamba dan Tuanku hendak pergi ke kerajaan Baginda untuk bertamu dan berbincang-bincang. Namun naas, di tengah perjalanan, hamba dan Tuanku dijegat oleh kawanan perampok.”

     “Aku turut berduka mendengar itu semua. Sunggu para perampok bajingan. Hmm… lalu di mana Tuanmu itu, Puska?”

     “Beliau berada di balik pohon-pohon sebelah sana, Baginda. Beliau tidak mengenakan pakaian, karena semua barang bawaannya diambil oleh para perampok, termasuk pakaiannya.”

     “Pelayan! Tolong kemari sebentar.”

     Dengan cepat dua orang pelayang datang ke arah sang raja. Di hadapan raja itu mereka menunduk dan memberi hormat, “Hamba Baginda Raja.”

     “Tolong kalian siapkan pakaian yang pantas untuk Pangeran Umang,” sang raja kepada kedua pelayan itu. Dengan cepat mereka berlalu dan mempersiapkan segala yang diperintah sang raja.

     “Terima kasih yang sebesar-besarnya hamba ucapkan kepada Baginda,” Puska pun menyembah sag raja lagi.

     Bagi para pelayan perintah raja sama dengan hidup-mati mereka. Sebisa mungkin harus cepat dikerjakan. Secepat mungkin perintah itu harus cepat diselesaikan. Dengan secepat kilat pun baju yang harus disiapkan mereka pun telah jadi. Mereka berdua membawa baju pesanan itu ke hadapan sang raja.

     “Baginda Raja, pesanan bajunya telah siap,” hormat kedua pelayan itu.

     “Baiklah. Tolong bawakan untuk Pangeran Umang yang berada di balik pohon-pohon sana. Sampaikan juga pada dia untuk segera ke sini.” Kepada Puska dia bersabda, “Puska, tolong antar pelayang-pelayanku ke tempat Tuanmu.”

     “Hamba Baginda Raja.”Mereka bertiga pergi ke arah pepohonan yang rimbun di sebelah barat, tak jauh dari tempat baginda raja.

     Pakaian telah diserahkan kepada Umang. Tak lupa Umang mengucapkan terima kasih kepada kedua pelayan itu. Setelah pakaian selesai dikenakan oleh Umang dan mempersiapkan diri sedikit, dirinya beranjak dari tempat itu ke tempat rombongan kerajaan, berdua bersama Puska.

     Di hadapan sang raja, Umang bersujud dan memberi hormat kepada sang raja. Berulang kali dirinya mengucapkan terima kasih atas pertolongan raja. “Jika bukan karena Baginda raja, mungkin hamba tidak akan berpakaian lagi selamanya,” tambahnya sambil masih bersujud.

     “Bangunlah Pangeran Umang,” titah raja kepada Umang yang kini telah menjadi pangeran. “Kau memang seorang yang memiliki sopan santun yang tinggi. Jarang kutemui pangeran sepertimu,” ujar raja. “Biasanya pangeran-pangeran yang kukenal teramat sombong dan angkuh. Padahal kekayaan mereka milik orangtua mereka yang menjadi raja, bukan milik mereka.”

     Saat Umang bangkit dari sujudnya, kedua matanya seketika bertemu kedua mata milik putri raja yang cantik. Ya, mata mereka bertemu satu sama lain… Agak lama. Keduanya sama-sama terkesima dan pipi mereka memerah.

     “Pangeran Umang,” tegur raja. Tapi Umang masih terkagum-kagum melihat kecantikan putri raja itu. “Umang!” kali agak keras.

     “M… mm… maaf Baginda Raja. Hamba barusan sedang melamun.”

     Terserah kau mau beralasan apa, tapi aku tahu kau pasti sedan memperhatikan putriku, begitulah kira-kira dalam hati sang raja sambil tersenyum. “Mari kita ke taman sana untuk berbincang-bincang lebih dalam,” ajak raja kepada Pangeran Umang.

     Jika ditanya sebelah mana purimu, jawab saja puri sebelah selatan perbatasan, biar hamba yang mempersiapkan semuanya. Begitulah yang ditulis Puska kepada Umang di secarik kertas.

     “Mari, Puska, kau juga ikut,” ajak raja kepada Puska.

     “Maaf Baginda, bukan hamba tidak mau. Namun hamba harus melapor ke kerajaan tentang kejadian perampokan tadi,” hindar Puska.

     “Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan.”

     Puska pamit dan dengan segera pergi menuju ke arah selatan, tempat sebuah puri besar berada. Dengan kekuatan dewanya dia melesat dengan cepat, secepat angin, ke puri itu. Untuk mempersiapkan segalanya.

*****

Ternyata puri yang berada di selatan itu milik raja setan. Anak dari raja penjaga pintu neraka. Sesampainya di puri itu, di gerbang masuk, Puska dihadang oleh empat pengawal kerajaan. Ia ditanyai hendak bertemu siapa dan ada keperluan apa. Akan tetapi tanpa ba bi bu, dengan kekuatan dewanya ia langsung menyihir keempat penghadang itu menjadi empat buah semut kecil yang tak berdaya. Setelah itu, ia langsung melesat menuju ruang utama. Ruang di mana berada sang raja setan yang hendak ditemuinya.

     “Hamba memberi hormat kepada Tuanku.”

     “Hohoho… Siapakah gerangan dirimu wahai manusia hina? Hahaha….” Sang raja setan itu terbahak-bahak melihat manusia sedang berada di hadapannya. “Apa kau mau menyerahkan dirimu untuk dimakan? Hahaha….”

     “Bukan begitu, Tuanku. Hamba datang kemari untuk menjadi abdi dari Tuanku Yang Mulia.”

     “Begitukah? Hohoho….”

     “Benar, Tuanku.”

     “Apa raja manusia sudah tidak mampu memberimu apa-apa lagi sehingga kau mau menyembahku? Hahaha….” Sang raja setan tertawa lagi, kali ini agak lama dan keras.

     “Begitulah kira-kira, Tuanku. Hamba sudah muak diperbudak oleh manusia-manusia yang bodoh itu.”

     “Hahaha…. Baiklah. Baiklah. Hahaha….”

     “Tapi sebelumnya maaf beribu maaf, Tuanku… Bolehkah hamba melihat sedikit kemampuan Tuanku?”

     Mendengar itu sang raja setan murka dan naik pitam. Ia langsung berdiri dan menghardik Puska, “Apa kau tidak yakin akan kekuatanku, hei manusia hina?”

     Masih dalam keadaan bersujud Puska menjawan, “bukan begitu yang hamba maksud, Tuanku. Hamba takut menyesal lagi di belakangny, Tuanku.”

     “Hohoho… Begitu rupanya. Hmmm… Baiklah. Kesaktian apa yang mau kau lihat?”

     “Bagaimana jika kesaktian merubah diri?”

     “Itu hal mudah bagiku. Menjadi singa?” Mendadak tubuh raja setan berubah ujud menjadi singa yang besar dan berbulu lebat. Ia mengaum layaknya singa sebenarnya. “Hahaha… Bagaimana menurutmu?”

     “Hebat sehebat-hebatnya, kesaktian yang Tuanku miliki. Tapi bagaimana dengan ujud kecoa?”

     “Kecoa? Terlalu mudah bagiku. Tapi baiklah.” Seketika diri raja setan itu berubah bentuk lagi. Dari ujud singa yang besar menjadi kecoa yang kecil dan hitam. “Hahaha… bagaimana menurutmu?”

     “Sangat hebat, Tuanku. Tapi akhir hidupmu hanya sampai di sini. Selamat tinggal raja setan.” Dengan cepat Puska menginjak raja setan yang sedang berbentuk kecoa itu. Tubuh raja setan itu langsung hancur. Mengucurkan darah segar, berwarna biru. Sebelum akhir hayatnya, raja setan itu sempat berteriak kesakitan. Tak lama nyawanya melayang menuju akhirat. Mungkin ke neraka, bertemu dengan Ayahnya.

     Puska kembali memakai kekuatannya untuk melepaskan manusia-manusia yang ditawan oleh raja setan. Para manusia itu pun berjanji untuk menjadi abdi setia Pangeran Umang. Dengan kesaktiannya, Puska merubah segala warna hitam istana menjadi warna putih, warna kesucian. Dan dihiasinya dengan pernak-pernik apik yang tak pernah ditemui di dunia.

     Malamnya, ada serombongan datang ke puri itu. Itulah rombongan raja dan Pangeran Umang. Rombongan itu disambut meriah dengan segala macam hidangan. Juga hiburan yang belum pernah sang raja saksikan di belahan negeri manapun. Raja terkagum melihat itu semua. Begitu pula putrinya, yang telah menaruh hati pada Umang… Pangeran Umang.

     “Umang…” sang raja memulai. “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu yang telah menyambutku dengan demikian meriah dan megah. Entah harus aku balas dengan apa.”

     “Tak usah sungkan Baginda. Hamba tadi juga sudah ditolong oleh Baginda, inilah balasan hamba kepada Baginda,” balas Umang tenang.

     “Pangeran Umang… Mungkin terlalu cepat jika aku berkata begini. Tapi mau tak mau harus kuutarakan juga.”

     “Ada apakah gerangan, Baginda Raja?”

     “Putriku Umang, Anna, dia mencintaimu. Dan ingin aku melamarmu untuknya.”

     Mendengar perkataan itu kedua pipi Umang memerah. Dia tertunduk malu dan agak lama membisu. Setelah dicolek oleh Puska, barulah mulutnya mengeluarkan sepatah kata.

     “Nngg… Baginda. Sebenarnya hamba juga jatuh cinta kepada putri Baginda sejak pertama bertemu. Entah kenapa hati ini berdebar kencang ketika mataku bertatapan dengan matanya. Mulanya aku mengurungkan cintaku ini… Namun sekarang tidak lagi. Cintaku telah berbalas,” kini terlukis senyum di muka Umang. Hati Umang kini merasakan bahagia yang teramat-sangat. Baru kali ini dia merasakan bahagia sebegitu besarnya. Keajaiban apa yang Kau berikan, Tuhan, dalam hati Umang.

     Singkat cerita jamuan malam itu diselingi pernikahan Pangeran Umang dengan Putri Anna. Sang putri berwajah cantik dan jelita. Pangeran Umang juga memiliki ketampanan yang rupawan. Keduanya bagai dewa-dewi khayangan yang turun ke bumi.

     Akhirnya mereka berdua hidup bahagia di puri yang bernama Kencana itu. Mereka sama-sama berikrar akan saling mencintai sampai rambut mereka memutih.

      “Sudah… sudah malam. Ayo tidur!” perintah sang ibu kepada anaknya yang berada di pelukan.

     “Iya, Ibuku sayang. Tapi nyanyiin lagu nina bobo ya… ya… ya,” sang anak masih merajuk. Kedua tangannya menarik-narik salah satu lengan ibunya yang menopang kepala sang anak.

     “Iya. Iya. Sini lebih dekap ke Ibu.” []


     A.M.A
     Jakarta, 26-27 Januari 2011

Senin, 24 Januari 2011

Lelinduran

ojo turu sore kaki
ono dewo nganglan jagad
nyangking bokor kencanane….
 

Tembang itu kembali kudengar senja ini, sama persis pada senja-senja sebelumnya, senja di malam jumat kliwon. Tembang itu, selalu bergentayang di sekitar gendang telingaku kala datangnnya malam yang sarat hawa-hawa mistis ini. Juga senja, waktu yang pas untuk menghantarkan dinginnya kabut dari puncak gunung.

     Entah dari mana asal tembang itu. Selalu saja ia datang pukul enam tepat dan tepat di kedua gendang telingaku. Sewaktu kutanya Romo, Ayahku, apakah ia mendengar lantunan semacam tembang? Hasilnya nihil, beliau tak mendengar suara apa pun selain azan magrib dan derik-derik jangkrik dari padang ilalang sekitar rumah kami. Atau apa mungkin pertanyaanku yang salah?… Ibu? Beliau sudah mangkat tiga tahun silam. Beliau sudah lebih dulu menghadap Sang Gusti Maha Pangeran.

     Tembang itu… selalu saja. Hanya aku yang mendengarnya. Hampir tiga tahun aku mendengar tembang itu setiap senja, setiap kali matahari meredup karena tersipu malu disapa rembulan. Setiap senja… ketika malam jumat kliwon.

     Tiga tahun sudah aku selalu mendengar lantunan yang… memang terdengar merdu di telingaku. Entah siapa gerangan yang melantun dengan demikian merdu. Ibu? Bukan. Memang lantunan itu seperti suara perempuan, tapi bukan Ibu. Selama hidupnya beliau tak pernah bersenandung, malah sewaktu aku kecil Romolah yang menggantikan peran itu sebelum aku tidur. Ibu di mataku terlihat sebagai seorang perempuan yang modern meskipun suaminya, Romoku, masih seorang yang memiliki trah raja-raja Jawa.
*****

Seusai solat magrib dirinya langsung melesat pergi keluar rumah dengan jeep kuningnya. Mobil tua memang, tapi ya setidaknya ia harus bersyukur mendapat kendaraan itu dengan gratis. Milik Ayahnya sewaktu muda dulu. Mungkin oleh Ayahnya tercinta, jeep tersebut amatlah dirawat, meskipun buatan tahun ’80-an, mesinnya masih saja meraung-raung dahsyat seperti kendaraan baru. Masih dahsyat dibawa ke jalan terjal berbatu.

     Memang, sewaktu muda dulu Ayahnya hobi sekali ber-off-road-ria dengan teman-teman masa muda. Jeep itu sering naik-turun gunung, kenang Ayahnya sekali waktu. Dan hobi itu menurun kepada dia, anaknya sematawayang.
 
     Malam ini dia mengarahkan jeep warisan itu ke arah utara. Sedikit ke arah Gunung Semeru. Hendak ke rumah Pamannya. Ada gelaran upacara cuci keris tahunan milik almarhum eyang. Dan… tembang itu mulai terdengar lagi setelah tadi sempat terhenti sejenak. Suara perempuan yang menembang ini pastilah memiliki paras yang cantik, dapat terbayang dari suara yang terdengar.

     Udara dingin mulai masuk dari celah-celah jendela yang tertutup rapat. Karena itu tangan kirinya meraba-raba bangku belakang hendak mengambil jaket tebal yang biasa ia gunakan saat udara berhawa dingin Sementara tangannya yang kanan mengendalikan jeep yang terus melaju, “Mana pula jaketnya?” ia terus mencari dengan pandangan tetap tak ditinggalkan dari jalanan. Seketika… wusss. Ada sejumput udara dingin yang meniup. Anehnya hanya di punggu tangan kirinya saja. Ya, hanya di punggung tangan.

     Jelas ia sontak menarik tangan kiri yang tertiup tadi. Bertanya-tanya, tapi tetap memandang sorot cahaya yang menyinari gelap jalan. “Siapa yang meniupku?” tanyanya heran pada diri sendiri. Ya, siapa yang meniupkan udara dingin ke punggung tangannya, yang jelas-jelas semua kaca jendela jeep ini tertutup rapat sedari tadi?
 
     “Kenapa harus ambil pusing toh? Mungkin angin yang melakukannya.”
 
     Rock’n Roll musik dinyalakannya keras-keras dari pemutar cd yang baru dipasang kemarin lusa. Agar mobil ini tidak terlalu terkesan tua, pikirnya. Ditambahkan pula beberapa perangkat dari abad 20. Semacam cd player dan kawan-kawan, pengeras suara masa kini berdaya watt yang lumayang tinggi. Warnanya pun juga dikelir kembali dengan kuning yang lebih cerah dibanding dulu, sebulan lalu.
 
     Dan wusss… angin dingin itu bertiup lagi. Kini di tengkuknya.
 
     “Ah, sial. Jalanan sepi pula.”

     Jeep miliknya kini sedang melalui jalanan yang dikelilingi pohon-pohon pinus raksasa yang umurnya mungkin sudah puluhan tahun. Tinggi-tinggi sekali. Dan gelap merasuki sepanjang jalan itu. Hanya sorot cahaya dari jeep miliknya yang membuka jalan.
“Sial, kenapa tadi aku tidak ikut Romo saja?” dan wusss… kini sekelebat bayangan melintas di depan matanya. Tepat di depan kaca kemudi yang ia duduki. Dengan seketika ia merem jeep itu. “Apa tadi!?” kini rasa kejut memenuhi batinnya.
 
     Seperti terkena setrum berwatt tinggi ia loncat dari kursi kemudinya sesaat setelah sekelebat bayang lewat lagi. Yang ini gerak bayang itu agak lama, sehingga, “kain putih? Gila!”

    Langsung ia mengajak lari jeep tua itu dengan cepat. Meninggalkan tempat yang memberinya kejutan-kejutan yang sepertinya sengaja ditujukan untuknya. Untuk dirinya, Anna, seorang gadis berambut panjang terjuntai sampai punggung, dan memiliki bekas luka di dahinya akibat terjatuh sewaktu terlambat menghentikan jeep miliknya ketika offroad di Pegunungan Halimun, Jawa Barat. Untung saja ada pohon besar yang menahan jeep itu kalau tidak, Anna dan jeepnya akan masuk jurang yang kedalamannya dapat meremukkan batu setinggi orang dewasa.
 
     Anna menebas malam. Dingin tak dirasanya lagi sebagai pengganggu yang serius. Dirinya hanya berpikir untuk sampai ke rumah pamannya yang berjarak duapuluh kilometer lagi dengan cepat. Dikebutnya jeep itu hingga kecepatan 100 km/jam. Dan memang, malam itu jalan lengang sekali. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat ataupun manusia. Hanya laron-laron kecil yang sesekali terlihat memancarkan cahayanya.
 
     Jalan yang berkelok dilahapnya dengan cekatan. Anna membanting setir ke kiri dan ke kanan tiap kali ada tikungan yang tajam, yang mungkin dapat membahayakan jiwanya, juga paras cantiknya.
 
     Wusss… angin itu bertiup lagi. Kini di belakang telinganya, tetapi hanya sekejap sudah itu menghilang. Pandangan tak ia lepaskan dari jalan yang terang disorot putihnya lampu jeep. Layaknya elang yang memburu mangsanya lengah, saat itulah waktu yang tepat untuk mencengkram. Seperti itulah Anna membuntuti jalan penuh belokan itu. Ketika di depan mata terpampang tikungan, barulah ia membanting setir mengikuti belokan itu. Memangsanya.
 
     Di belokan yang entah keberapa, dari jauh Anna melihat seorang anak kecil yang berjalan mengenakan kebaya adat Jawa, lengkap dengan pernak-pernik di kepala. “Malam hari? Anak kecil? Wah, ini sudah tidak waras.”
 
     Semakin Anna menancap gas jeep itu. Berusaha untuk cepat-cepat melewati anak kecil berpakaian adat Jawa itu. Seketika sudah dekat dengan anak kecil tadi, tiba-tiba saja mesin jeep miliknya berhenti menderu. Mati.
 
     “Sial!” hardik Anna. “Sial! Sial! Sial!”
 
     Entah kenapa anak kecil itu mendekat dengan cepat. Akan tetapi tidak ke menuju Anna dan jeepnya, melainkan berjalan terus saja. Anak kecil itu seakan-akan tak peduli dengan cahaya lampu yang berasal dari jeep milik Anna.
 
   “Astaga! Baru lihat apa aku? Pucat sekali wajahnya. Sial!” Jeepnya kembali menderu-deru, berbunyi seperti awal. Langsung saja Anna menancap gas dan berlalu dari tempat itu.
 
     Sungguh, jeepnya terus melesat seperti pesawat tempur yang sedang berperang di medan pertempuran. Kini 120 km/jam. “Gila! Gila!” masih saja ia menggerutu. Sampai-sampai ia tak  sadar ada kendaraan yang mengedip-kedipkan lampu di belakang jeepnya, meminta jalan.
 
     “Jalan aja, Mas!” teriaknya. Entah mobil, entah motor atau yang lainnya, tetapi ia tak mau lewat, dan malah mengikuti laju jeep milik Anna ke kanan maupun ke kiri. “Jalan aja, woy!” teriaknya lagi.
 
     Anna pun kemudian sibuk celingak-celinguk memperhatikan spion-spionnya. Kanan, kiri dan spion atas, dan masih saja kendaraan yang dibelakangnya tak mau lewat.
 
     Benar saja, Anna tak melihat tikungan di depan dan… BRUAAAKKK!!!
 
     “Mbok! Mbok!” teriaknya.
 
     Dengan tergesa-gesa tak lama si Mbok datang dengan mukena yang masih terpasang. Dengan mukena yang terseret-seret dia datang dari arah belakang ke teras depan, asal suara teriakan Den Ayu.

     “Aduh Den Ayu, sudah Mbok bilang jangan tidur di amben ini sore-sore.”
 
     “Aku ketiduran, Mbok! Habisnya tembang yang Mbok nyanyikan tadi itu mendayu-dayu sih nadanya. Membuat saya mengantuk. Hehe…” Terkekeh ia sambil bangkit sehabis jatuh dari amben.
 
     “Lha, Den Ayu ini pripun tha? Makna tembang saya kan menyarankan agar tidak tidur sore, Den. Apalagi ini malam jumat kliwon, Nden.” Kedua tangan Mbok yang sudah penuh kerut membantu memapah Den Ayu Anna untuk duduk ke amben.
 
     “Lha, mana saya tahu, Mbok.”
 
     “Mila punika, sinau basa Jawi sing sregep. Kok anak Kanjeng Gusti Tumenggung ndak bisa bahasa Jawa toh.”

     “Hehehe….”

     Si Mbok pun pergi lagi ke belakang, meninggalkan Nden Ayu Anna yang terkekeh-kekeh sendiri di amben, seperti mentari yang meninggalkan hari dan membiarkan kirana tersenyum malam itu. Raganya yang sudah bongkok membuat langkahnya terlihat agak terseret.

     “Nden Ayu. Nden Ayu.” []


     A.M.A
     Depok-Jakarta, 20-24 Januari 2011

Sabtu, 08 Januari 2011

Matinya Dewi Afrodit

Ketika bara rokokku yang bercumbu dengan seuntai asbak padam, sosok itu lamat-lamat terlihat dari kejauhan. Sesosok perempuan yang berjalan gemulai dari arah pintu itu memesona setiap mata. Membuai banyak lelaki seisi ruang café yang tak begitu luas ini. Rambutnya yang ikal panjang gulung-bergemulung, terempas angin yang berseliweran lewat.

     Ana namanya, terdengar bisik-bisik dari bangku sebelah. Sosok perempuan itu sudah terkenal di café ini, khususnya di pelanggan laki-laki. Ibarat dewi-dewi khayangan, Ana itu memiliki kecantikan Dewi Afrodit, ujar bangku belakangku. Kecantikannya memalingkan pandangan para lelaki di café ini, meskipun para lelaki itu telah mempunyai dewi-dewinya sendiri, tambahnya.

     Senja sedang terbelalak di garis cakrawala, kala Ana memilih kursi di pojok café. Diikatnya rambut yang ikal bergulung-gulung itu ke belakang, menampakkan juntai leher yang jenjang dan anggun. Cahaya mentari yang masuk dari kaca jendela memeluk leher itu, juga wajahnya. Dan rona wajah itu terlihat lebih cantik dibanding tadi.

     Seolah ada yang dilihatnya, matanya ia tujukan ke arah luar jendela. Sekilas, parasnya memang rupawan. Ana? Berapa umurnya kira-kira? Agak tergelitik memang untuk mencari-tahu itu. Tapi, ah itu hanya di angan-anganku saja. Tak lebih.

     Satu lagi sosok manusia memasuki café ini. Dan itu Nadia, sosok manusia yang sedari tadi kutunggu. Kekasihku. Ia celingukan di dekat pintu masuk. Setelah pandangannya dan pandanganku bertemu, ia melambaikan tangannya. Kemudian berlenggang ke arahku.

     Dengan cekatan ia menghindari tiap-tiap bangku yang berhimpitan, yang menghalangi perjalanannya. Sebagai model, menurutku mudah sekali melakukan itu dengan tubuh rampingnya.

     Diciumnya pipiku sebelah kanan dan kiri. Lalu duduk. Ia meletakkan barang bawaannya yang sebegitu rumit di atas meja dan kursi. “Sudah lama sayang?” ia bertanya.

     “Seperti yang kau kira,” jawabku singkat.

    Bisa dibilang aku dan Nadia jarang sekali bertemu, karena ia sibuk sekali dengan dunia permodelannya. Sedangkan aku berkejar-kejaran dengan deadline kantor yang tak punya toleransi. Maklumlah, sebagai kuli tinta di sebuah surat kabar harian, aku harus berlari kesana-kemari untuk mengais berita-berita hangat perpolitikan negara ini.

     Bisa dibilang aku dan Nadia hanya bisa bertemu sebulan dua kali. Pertama, pada tanggal lima awal bulan, dan tanggal 30 di penghujung. Yak! Tanggal 30, hari ini. Hari di mana kita akan menghabiskan malam dan mengunyah bintang-bintang. Hari ini.

*****

     “Aku berjanji padamu untuk menemuimu pada tanggal ke-30 di setiap bulannya, di tempat ini, di bangku ini,” tekan lelaki itu kepada kekasihnya. Keduanya duduk berhadap-hadapan di dekat jendela yang menghantarkan cahaya matahari dengan sapuan warna merah senjanya.


     Perempuan yang diajaknya bicara hanya termangu. Matanya memandang jauh ke dalam mata lelaki yang mengajaknya berbicara itu. “Bagaimana, sayang?” tambah lelaki itu. Kini bulir-bulir air mata tergenang di kelopak mata sang perempuan. Mereka jatuh satu-satu ke pipi yang putih merona itu.


     Keempat tangan yang sedari tadi saling menggenggam terangkat satu. Menghapus bulir-bulir mata yang mulai menetes di pipi perempuan yang wajahnya kini tertunduk bisu. Entah harus berkata apa aku, hati sang perempuan berbicara. Namun kata-kata itu tak terlontar keluar dari mulutnya. Dia hanya bisa mengisakkan tangis.


     “Aku akan menemuimu di café ini, di bangku ini, setiap tanggal 30. Aku berjanji.” Lelaki itu berikrar, disaksikan matahari dan angin. “Aku berjanji,” lelaki itu mengecup kedua punggung tangan perempuan itu, “aku berjanji, Ana.”

*****

Sambil bersandar di ranjang hotel, kurapatkan sebatang rokok di antara bibirku yang menyisakan seberkas bibirnya. Bibir Nadia. Sementara pemilik bibir itu terlelap tidur di sampingku.

     Dengan selimut berwarna abu-abu yang di mataku terlihat sangat hangat. Bukan panas seperti adeganku dengannya tadi. Melainkan hangat yang melindungi seluruh raga, bahkan hati sekalipun.

     Raganya menggeliat sesaat. Mungkin, mencari area yang lebih luas untuknya teman lelapnya. Sempat kuperhatikan kedua matanya yang selalu indah. Meski sedang tertutup. Meski. Kala kesadarannya sedang tak berada di sini. Bibirnya yang merah merekah itu, yang kucumbui tadi. Sangat manis.

     Kusingkirkan rambut-rambut halus yang menghalangi keningnya. Kukecup kening itu. Alangkah aku mencintainya. Nadia. Kuakui, sekalipun ia seorang perempuan yang dipenuhi kemewehan, tapi ia tak segan-segan mengutarakan perasaannya padaku waktu itu, yang notebene hanyalah seorang jurnalis yang tak punya uang.

     Layaknya anak kecil yang lugu, aku putar-putar rambutnya yang ikal itu. Rambut ikal yang terjuntai sampai punggung. Rambut yang gulung-gemulung menutupi sebagian buah dadanya. Ikal. Panjang.

     Sial ada yang terlupa, tapi apa?

*****

Benar saja. Dia duduk di singgasananya yang sama dengan kemarin lusa: di pojok café, dekat dengan jendela yang mengantarkan sinar mentari ke wajahnya. Kali ini pun ia persis duduk di tempat itu dengan memangku dagunya dengan sebelah tangan. Sementara yang sebelah lagi memegang sebatang rokok yang menyembulkan asapnya ke atas meja. Bergulung-gulung.

     “Maaf, Nona,” sapa seorang pria yang tiba-tiba datang.

     Dia tak menoleh. Namun wajah itu tetap rupawan sebagaimana mestinya. Seolah-olah sinar matahari enggan melepas wajahnya untuk menoleh.

     “Nona,” sapa pria itu untuk kedua kalinya.

     “Ah… iya,” jawabnya tergagap seakan tersadar ada sesosok makhluk berjenis kelamin pria di sampingnya, yang telah menyapanya dua kali. “Maaf, saudara siapa?” tambahnya.

     “Benar Nona bernama Ana Matlihova?” tanya pria berperawakan sedang itu. Seloroh pria itu menyodorkan tangannya, “perkenalkan, saya Cok.”

     Tangan kekar pria itu tak bersambut tangan Ana. Malah dia kembali memandang ke luar jendela. Ke jalanan yang menampilkan suasana malam, yang sepi-lengang.

    “Jika boleh saya tahu Anda sedang memandang apa, Nona Ana?” basa-basi pria itu dengan menarik salah satu kursi. “Apakah… sedang mencari sosok Tuan Lukas?” bisiknya kemudian tepat di samping telinga kanan Ana.

     Wajah itu seketika menoleh. Dengan mimik heran dan agak sedikit membentak ia balik bertanya kepada pria yang memakai topi pat hijau itu, “tahu dari mana kau tentang Lukas!?”

     “Saya…” lelaki itu memulai perbincangan, “tahu segalanya tentang Nona. Hal itu karena Nona Ana ini ialah kekasih dari Tuan Lukas. Maka dari itu, saya mengetahui segala tentang Nona. Juga Tuan Lukas.”

     “Tahu apa kau tentang Lukas!?” Bentak Ana kepada pria itu. Pria itu. Sangat terlihat parlente sekali. Dengan kemeja putih berkerah keras. Jaket panjang berwarna hijau tua. Hampir senada dengan topi pat-nya.

     “Sudah saya bilang tadi…” ia memantik api guna menyalakan tembakau yang sudah terpasang di pipanya, “…saya mengetahui dengan baik tentang Anda, maupun Tuan Lukas. Apa perlu saya bacakan?” Asap pun menari-nari di hadapan wajah Cok.
     Terlihat sangat tak sudi Ana mendengarkan ocehan pria itu. Dia kembali memalingkan wajahnya ke jendela. Mengarah ke luar. Ke jalanan malam yang sudah sepi-senyap dengan deru kendaraan.

     Entah hendak meraih apa, Cok, merogoh-rogoh saku dalam jaketnya. Dan mengambil beberapa carik kertas yang penuh akan coretan. Kemudian.

     “Ana Matlihova. Dilahirkan di Alitsat, 18 Januari 1985. Anda lulusan Institut Seni Alitsat, jurusan Seni Rupa Murni pengkhususan Seni Patung. Anda memiliki mata biru, karena Ibu Anda seorang ras Aria. Anda memiliki golongan darah O. Anda memiliki kekasih yang bernama Lukas Alaxander. Anda masih tinggal dengan Ibu Anda yang sudah berstatus janda, bukan. Apa perlu saya sebutkan alamatnya pula?” pria itu mengakhiri.

     Ana yang mengacuhkannya kini terbelalak.

     “Cukup!” Bentaknnya.

     Dia menarik lengan jaket pria yang bernama Cok itu. Badan Cok menjadi tertarik sedikit ke arah Ana. “Dari mana kau tahu semua itu, bajingan?” tanya Ana berbisik dengan nada yang terdengar seperti menahan amarah.

     Dengan santainya Cok menjawab, “sudah saya bilang tadi. Saya mengetahui dengan baik data diri Anda, Ana Matlihova. Juga Lukas Alexander. Sangat baik sekali.”

*****

Matahari sudah dijemput rembulan. Siang berganti malam. Dan tok.

     Seperti terlupa dengan sesuatu yang teramat penting, aku loncat dari sofa kantor yang membuatku tertidur. Kemudian dengan cepat aku menyambar kunci mobil dan jaketku yang tergeletak di atas meja.

     “Ana!” gumamku. “Semoga masih sempat.”

*****

     “Jadi Anda mau ikut saya atau tidak?”

     “Jelas tidak!” bentak Ana.

     “Jadi…” Cok mendekatkan badannya ke arah wanita itu, “…Anda memilih untuk menjenguk Lukas di sana?”

     “Bicara saja dengan gelas!” bentak Ana lagi sambil lalu. Sambil pergi meninggalkan Cok sendirian.
     “Jadi…”
     DOOORRR!!! Suara tembakan itu tepat mengenai kepala Ana yang tengah berjalan pergi.
     Suasana café itu seketika riuh tiba-tiba. Ada yang berteriak pistol, pistol. Ada yang berteriak-teriak tak jelas.
     Cok kemudian berdiri dari tempatnya duduk. Ia berjalan tenang menghampiri tubuh Ana yang tergelepar di lantai karpet yang berwarna merah.
     DOOORRR!!! Tembakan kedua. Tepat pula mengenai kepala Ana. Dan paras yang cantik rupawan itu langsung lebur. Pecah terburai.

     Sementara para pengunjung café banyak yang berlarian ke luar dengan jeritan minta tolong. Ada yang teriak ada pembunuhan, ada pembunuhan. Ada yang ditembak, dan masih banyak lagi teriakan lainnya.

     Pria yang bernama Cok itu kini tengah berdiri memandangi tubuh Ana yang sudah tak bernyawa lagi. Ia memandanginya dengan mendalam. Dengan pandangan iba. Di pikirannya, andai saja engkau mau ikut bersama saya. Wajahmu yang cantik tak akan menjadi cacat seperti ini. Maafkan saya Ana. Saya hanya melaksanakan tugas.

     Cok melepas jaket panjang yang dikenakannya. Ia gunakan untuk menutupi Ana Matlihova yang sudah tidak dapat berbicara lagi. Lalu ia melenggangkan langkahnya dengan tenang ke luar café.

     Sebagian pengunjung yang berlindung di bawah meja menunjuk-nujuk Cok sembari berkata pembunuh, pembunuh.

*****

“Maafkan aku, Ana. Andai saja waktu itu aku sadar lebih cepat bahwa kau adalah Ana yang sedang aku cari-cari dalam reportaseku. Kelak wajah cantikmu akan terus menghiasi café itu sampai sekarang. Ah, kini tidak ada lagi para lelaki yang memuja-mujamu sebagai Dewi Afrodit.”


     A.M.A
     Depok, 03-04 Januari 2011

Sepenggal Kisah di Masa Kanak-kanak

Ini kisah yang pernah aku alami sewaktu aku masih kecil. Kelas empat sd lebih tepatnya. Mungkin cerita ini tak menarik bagi pembaca sekalian, tapi tak ada salahnya bukan jika aku bercerita sedikit di sini? Hitung-hitung berbagi kisah bagi pembaca sekalian yang budiman. Sebagai bahan pembelajaran, jika boleh mengutip orang-orang tua bilang.
      Kisah ini terjadi tepat saat aku duduk di kelas empat sd. Di sebuah sekolah dasar yang aku lupa namanya, yang jelas sd-ku itu ada di daerah kota tingkat dua—itu yang kudengar dari salah seorang guru sd-ku, dan berstatus sd beragama. Soal agamanya apa tak begitu pentinglah, yang penting berbagi kisah bukan?
     Kala itu panas menjilat-jilat hari. Dari langit menyembur terik matahari yang teramat-sangat. Hingga sekujur pakaianku dan teman-teman penuh akan peluh. Dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Dahi, leher, ketiak, dada, sela-sela paha pun tak tertinggal dikerubungi oleh keringat yang terus membanjir. 
     Memang salah kami yang tak membersihkan tempat peribadatan milik sekolah di pagi hari. Padahal kami tahu, pagi itu memang giliran kelompok kami yang bertugas. Namun karena bosan, kami berlima sepakat untuk sengaja datang telat ke sekolah hari itu, dan tidak mengerjakan tugas dari Bapak. Karenanya, aku dan beberapa teman terkena tulah. Seorang tua yang rambutnya telah memutih dan setengah botak, yang memakai jubah hitam dengan garis putih di lehernya, yang biasa kami panggil Bapak Busye, memerintah kami untuk membersihkan tempat peribadatan itu pada siang harinya, usai sekolah. 
     Kala itu hari enggan bersahabat dengan kami berlima. Aku, Frente, Tina, Jaqueline, dan Fritz, amat kewalahan membersihkan tempat peribadatan itu yang luasnya minta ampun. Bangku yang berjejer di sana-sini. Dari depan ke belakang. Kiri ke kanan. Mereka tak terhitung jumlahnya jari-jari tanganku dan jari-jari tangan Jaqueline. Panas-terik matahari masuk dari atap yang seluruhnya terbuat dari mika bening, yang jika malam hari akan terlihat jelas para bintang yang bersinar. Dan siang itu matahari seakan melambaikan tangannya kepada kami yang tengah kehausan.
     Kami menanti seorang malaikat membawakan minum, Tuhan. Apa kau begitu tuli hingga tak mendengarkan jeritan hati kami? Padahal kau lihat sendiri, aku dan teman-teman sudah membersihkan rumahmu. Begitulah kira-kira doaku dalam hati, kepada Tuhan yang diajarkan Bapak Busye di kelas.  Tuhan, dia yang sedang berdiri mematung dan bertelanjang dada di depan sana. Dingin sekali sikapnya. Huh! Brewok! Hardikku kemudian.
     “Hei, anak-anak. Minum dulu!” Suara itu. Suara yang hanya dimiliki oleh penjaga kantin sekolah yang sangat baik sekali kepada anak-anak. Khususnya dengan kami berlima: Aku, Jaqueline, Tina, Frente, dan Fritz.
     Dengan logat daerahnya yang khas dia memanggil kami yang sedang menyapu di sudut-sudut untuk datang ke arahnya. “Minum dulu!” tambahnya lagi. Asyik, asyik, asyik, teriak kami berlima sambil berlari. Bergegas kami berlima ke arahnya. Ke arah altar depan. Arah yang juga terdapat Tuhan sedang berdiri mematung di sana.
     Kami berlima berebut limun yang sebenarnya ada sepuluh gelas. Tapi… Ah, sudahlah. Hal terpenting adalah kami tetap gembira kok. Aku meminum segelas limun itu sambil malu dengan Tuhan yang berdiri di depanku. Baru saja aku menghardik Tuhan karena aku kira ia tak mendengar doaku. Eh… tiba-tiba saja ada sepuluh gelas limun untuk lima orang. Rezeki, kalau kata Ayahku.
     Maaf ya, Tuhan, tadi aku marah-marah sama kamu. Geli sendiri aku memikirkan hal yang sudah lewat tadi.
     “Sebentar ya, Ibu mau ambil biskuitnya dulu,” sela Ibu Wein kepada kami yang sedang asik menikmati limun jeruk dingin. “Biskuit?” tanya kami serentak. “Bawa yang banyak ya, Bu Wein,” tambah kami kepadanya yang dengan susah payah berjalan keluar altar. “Tak masalah,” jawabnya parau.
     Tanpa ada angin dan apa pun yang melintasi kepalaku. Tiba-tiba, “eh, Jeko.” Jeko, panggilan akrab kami kepada Jaqueline. “Tuhan apa tidak kedinginan ya telanjang begitu?” tanyaku kepadanya sambil menunjuk Tuhan yang sedari tadi tidak berbicara dan tidak kehausan.
     “Ya enggaklah. Tuhan kan enggak kedinginan, karena kita selalu berdoa ke dia,” jawab Jeko lugu.
     “Memang kamu tidak berdoa ke Tuhan?” tanyanya kemudian padaku yang sedang menyeruput gelas limun kedua.
      “Nggg… Tuhan ini? Nggg… Enggak tuh. Soalnya di rumahku gak diajarin berdoa kepada Tuhan yang diajarin Bapak Busye. Di rumah, aku menyembah Tuhan yang diajarkan Ibu.
     “Kamu gak pernah ikut doa di sini ya setiap minggu?” sela Frente dengan tergagap-gagap.
     “Tuhan, tuh sayang sama kita, makannya bajunya dikasih kita semua supaya kita tidak kedinginan. Makannya dia telanjang,” tambah Fritz.
     “Aku gak pernah berdoa di sini. Aku gak pernah diajarin Ibu doa kepada Tuhan yang itu,” belaku kesal, dengan jari telunjuk mengarah kepada Tuhan.
     Seakan menengahi, Tina berteriak-teriak, “sudah-sudah,” dengan suara cemprengnya. Saat semuanya diam, Tina bertanya kepadaku, “memang cara doa kamu kaya apa, Lin?”
     Keenambelasmata mengarah pada keempat mataku seluruhnya. Mata mereka tajam seperti ingin mengorek sesuatu yang terdalam dariku. Dengan keluguan anak kecil yang teramat-sangat, mereka merengek dan menarik-narik lengan kemejaku. Mereka meminta aku bercerita tentang caraku berdoa di rumah kepada Tuhan yang diajarkan Ibu.
     “Iya, iya,” jawabku. “Tapi ingat, jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Rahasia.”
     Mendengar kata rahasia, tangan mereka semua langsung menutup mulut secara serentak. Dan kemudian membisu, seperti Tuhan yang ada di depan sana, yang sedang melihat ke arah kami. “Ikuti aku ya… Eh, tapi biar adil, kita berdoanya menghadap Tuhan kalian ya.” Mereka hanya mengangguk saja, tanda sepakat.
    Aku di depan sendiri, sedangkan Tina, Jeko, Frente, Fritz, berbanjar di belakang. Saat semua sudah siap di barisannya masing-masing, aku mengangkat kedua tanganku terbuka, masing-masing di samping telinga. Tak lupa merapal doa yang diajarkan Ibuku. Serentak mereka mengikuti gerakanku yang demikian. Kemudian aku menunduk, mereka pun menunduk. Saat kembali mengangkat badanku, sambil merapal doa yang berbeda, tiba-tiba, “ada Bapak Busye!”
     Teriakan Fritz itu membuyarkan doaku dan teman-teman kepada Tuhan. Tuhan yang diajarkan oleh Pak Busye di kelas. Juga Tuhan yang diajarkan oleh Ibu di rumah. Dengan cepat kami menyambar sapu-sapu kami yang terkapar di lantai tadi, dan seolah-olah kami kembali bekerja. Padahal jika dilihat-lihat lagi, sudah tak ada debu yang menempel lantai.
     Dengan muka dinginnnya, Pak Busye memerhatikan pekerjaan kami. Dengan badan yang telah bungkuk, diperhatikannya wajah kami satu-satu. Saat giliran wajahku, dia membentak, “jangan malas membersihkan rumah Tuhan jika giliranmu tiba!”
     Setelah itu ia pergi dengan meninggalkan kedongkolan di hatiku. Mungkin kedongkolan itu masih tersisa sampai sekarang. Sampai pembaca yang budiman sekalian membaca kisah ini. Baik itu di koran, di pamflet-pamflet pasar,  di jejaring sosial, di mana punlah pokoknya.
     Seperti di awal tadi, mungkin kisahku di atas tidak penting bagi pembaca yang budiman sekalian. Tapi toh, tak ada salahnya kan berbagi kisah?


A.M.A
Depok, 04 Januari 2011