ojo turu sore kaki
ono dewo nganglan jagad
nyangking bokor kencanane….
ono dewo nganglan jagad
nyangking bokor kencanane….
Tembang itu kembali kudengar senja ini, sama persis pada senja-senja sebelumnya, senja di malam jumat kliwon. Tembang itu, selalu bergentayang di sekitar gendang telingaku kala datangnnya malam yang sarat hawa-hawa mistis ini. Juga senja, waktu yang pas untuk menghantarkan dinginnya kabut dari puncak gunung.
Entah dari mana asal tembang itu. Selalu saja ia datang pukul enam tepat dan tepat di kedua gendang telingaku. Sewaktu kutanya Romo, Ayahku, apakah ia mendengar lantunan semacam tembang? Hasilnya nihil, beliau tak mendengar suara apa pun selain azan magrib dan derik-derik jangkrik dari padang ilalang sekitar rumah kami. Atau apa mungkin pertanyaanku yang salah?… Ibu? Beliau sudah mangkat tiga tahun silam. Beliau sudah lebih dulu menghadap Sang Gusti Maha Pangeran.
Tembang itu… selalu saja. Hanya aku yang mendengarnya. Hampir tiga tahun aku mendengar tembang itu setiap senja, setiap kali matahari meredup karena tersipu malu disapa rembulan. Setiap senja… ketika malam jumat kliwon.
Tiga tahun sudah aku selalu mendengar lantunan yang… memang terdengar merdu di telingaku. Entah siapa gerangan yang melantun dengan demikian merdu. Ibu? Bukan. Memang lantunan itu seperti suara perempuan, tapi bukan Ibu. Selama hidupnya beliau tak pernah bersenandung, malah sewaktu aku kecil Romolah yang menggantikan peran itu sebelum aku tidur. Ibu di mataku terlihat sebagai seorang perempuan yang modern meskipun suaminya, Romoku, masih seorang yang memiliki trah raja-raja Jawa.
*****
Seusai solat magrib dirinya langsung melesat pergi keluar rumah dengan jeep kuningnya. Mobil tua memang, tapi ya setidaknya ia harus bersyukur mendapat kendaraan itu dengan gratis. Milik Ayahnya sewaktu muda dulu. Mungkin oleh Ayahnya tercinta, jeep tersebut amatlah dirawat, meskipun buatan tahun ’80-an, mesinnya masih saja meraung-raung dahsyat seperti kendaraan baru. Masih dahsyat dibawa ke jalan terjal berbatu.
Memang, sewaktu muda dulu Ayahnya hobi sekali ber-off-road-ria dengan teman-teman masa muda. Jeep itu sering naik-turun gunung, kenang Ayahnya sekali waktu. Dan hobi itu menurun kepada dia, anaknya sematawayang.
Malam ini dia mengarahkan jeep warisan itu ke arah utara. Sedikit ke arah Gunung Semeru. Hendak ke rumah Pamannya. Ada gelaran upacara cuci keris tahunan milik almarhum eyang. Dan… tembang itu mulai terdengar lagi setelah tadi sempat terhenti sejenak. Suara perempuan yang menembang ini pastilah memiliki paras yang cantik, dapat terbayang dari suara yang terdengar.
Udara dingin mulai masuk dari celah-celah jendela yang tertutup rapat. Karena itu tangan kirinya meraba-raba bangku belakang hendak mengambil jaket tebal yang biasa ia gunakan saat udara berhawa dingin Sementara tangannya yang kanan mengendalikan jeep yang terus melaju, “Mana pula jaketnya?” ia terus mencari dengan pandangan tetap tak ditinggalkan dari jalanan. Seketika… wusss. Ada sejumput udara dingin yang meniup. Anehnya hanya di punggu tangan kirinya saja. Ya, hanya di punggung tangan.
Jelas ia sontak menarik tangan kiri yang tertiup tadi. Bertanya-tanya, tapi tetap memandang sorot cahaya yang menyinari gelap jalan. “Siapa yang meniupku?” tanyanya heran pada diri sendiri. Ya, siapa yang meniupkan udara dingin ke punggung tangannya, yang jelas-jelas semua kaca jendela jeep ini tertutup rapat sedari tadi?
“Kenapa harus ambil pusing toh? Mungkin angin yang melakukannya.”
Rock’n Roll musik dinyalakannya keras-keras dari pemutar cd yang baru dipasang kemarin lusa. Agar mobil ini tidak terlalu terkesan tua, pikirnya. Ditambahkan pula beberapa perangkat dari abad 20. Semacam cd player dan kawan-kawan, pengeras suara masa kini berdaya watt yang lumayang tinggi. Warnanya pun juga dikelir kembali dengan kuning yang lebih cerah dibanding dulu, sebulan lalu.
Dan wusss… angin dingin itu bertiup lagi. Kini di tengkuknya.
“Ah, sial. Jalanan sepi pula.”
Jeep miliknya kini sedang melalui jalanan yang dikelilingi pohon-pohon pinus raksasa yang umurnya mungkin sudah puluhan tahun. Tinggi-tinggi sekali. Dan gelap merasuki sepanjang jalan itu. Hanya sorot cahaya dari jeep miliknya yang membuka jalan.
“Sial, kenapa tadi aku tidak ikut Romo saja?” dan wusss… kini sekelebat bayangan melintas di depan matanya. Tepat di depan kaca kemudi yang ia duduki. Dengan seketika ia merem jeep itu. “Apa tadi!?” kini rasa kejut memenuhi batinnya.
Seperti terkena setrum berwatt tinggi ia loncat dari kursi kemudinya sesaat setelah sekelebat bayang lewat lagi. Yang ini gerak bayang itu agak lama, sehingga, “kain putih? Gila!”
Langsung ia mengajak lari jeep tua itu dengan cepat. Meninggalkan tempat yang memberinya kejutan-kejutan yang sepertinya sengaja ditujukan untuknya. Untuk dirinya, Anna, seorang gadis berambut panjang terjuntai sampai punggung, dan memiliki bekas luka di dahinya akibat terjatuh sewaktu terlambat menghentikan jeep miliknya ketika offroad di Pegunungan Halimun, Jawa Barat. Untung saja ada pohon besar yang menahan jeep itu kalau tidak, Anna dan jeepnya akan masuk jurang yang kedalamannya dapat meremukkan batu setinggi orang dewasa.
Anna menebas malam. Dingin tak dirasanya lagi sebagai pengganggu yang serius. Dirinya hanya berpikir untuk sampai ke rumah pamannya yang berjarak duapuluh kilometer lagi dengan cepat. Dikebutnya jeep itu hingga kecepatan 100 km/jam. Dan memang, malam itu jalan lengang sekali. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat ataupun manusia. Hanya laron-laron kecil yang sesekali terlihat memancarkan cahayanya.
Jalan yang berkelok dilahapnya dengan cekatan. Anna membanting setir ke kiri dan ke kanan tiap kali ada tikungan yang tajam, yang mungkin dapat membahayakan jiwanya, juga paras cantiknya.
Wusss… angin itu bertiup lagi. Kini di belakang telinganya, tetapi hanya sekejap sudah itu menghilang. Pandangan tak ia lepaskan dari jalan yang terang disorot putihnya lampu jeep. Layaknya elang yang memburu mangsanya lengah, saat itulah waktu yang tepat untuk mencengkram. Seperti itulah Anna membuntuti jalan penuh belokan itu. Ketika di depan mata terpampang tikungan, barulah ia membanting setir mengikuti belokan itu. Memangsanya.
Di belokan yang entah keberapa, dari jauh Anna melihat seorang anak kecil yang berjalan mengenakan kebaya adat Jawa, lengkap dengan pernak-pernik di kepala. “Malam hari? Anak kecil? Wah, ini sudah tidak waras.”
Semakin Anna menancap gas jeep itu. Berusaha untuk cepat-cepat melewati anak kecil berpakaian adat Jawa itu. Seketika sudah dekat dengan anak kecil tadi, tiba-tiba saja mesin jeep miliknya berhenti menderu. Mati.
“Sial!” hardik Anna. “Sial! Sial! Sial!”
Entah kenapa anak kecil itu mendekat dengan cepat. Akan tetapi tidak ke menuju Anna dan jeepnya, melainkan berjalan terus saja. Anak kecil itu seakan-akan tak peduli dengan cahaya lampu yang berasal dari jeep milik Anna.
“Astaga! Baru lihat apa aku? Pucat sekali wajahnya. Sial!” Jeepnya kembali menderu-deru, berbunyi seperti awal. Langsung saja Anna menancap gas dan berlalu dari tempat itu.
Sungguh, jeepnya terus melesat seperti pesawat tempur yang sedang berperang di medan pertempuran. Kini 120 km/jam. “Gila! Gila!” masih saja ia menggerutu. Sampai-sampai ia tak sadar ada kendaraan yang mengedip-kedipkan lampu di belakang jeepnya, meminta jalan.
“Jalan aja, Mas!” teriaknya. Entah mobil, entah motor atau yang lainnya, tetapi ia tak mau lewat, dan malah mengikuti laju jeep milik Anna ke kanan maupun ke kiri. “Jalan aja, woy!” teriaknya lagi.
Anna pun kemudian sibuk celingak-celinguk memperhatikan spion-spionnya. Kanan, kiri dan spion atas, dan masih saja kendaraan yang dibelakangnya tak mau lewat.
Benar saja, Anna tak melihat tikungan di depan dan… BRUAAAKKK!!!
“Mbok! Mbok!” teriaknya.
Dengan tergesa-gesa tak lama si Mbok datang dengan mukena yang masih terpasang. Dengan mukena yang terseret-seret dia datang dari arah belakang ke teras depan, asal suara teriakan Den Ayu.
“Aduh Den Ayu, sudah Mbok bilang jangan tidur di amben ini sore-sore.”
“Aku ketiduran, Mbok! Habisnya tembang yang Mbok nyanyikan tadi itu mendayu-dayu sih nadanya. Membuat saya mengantuk. Hehe…” Terkekeh ia sambil bangkit sehabis jatuh dari amben.
“Lha, Den Ayu ini pripun tha? Makna tembang saya kan menyarankan agar tidak tidur sore, Den. Apalagi ini malam jumat kliwon, Nden.” Kedua tangan Mbok yang sudah penuh kerut membantu memapah Den Ayu Anna untuk duduk ke amben.
“Lha, mana saya tahu, Mbok.”
“Mila punika, sinau basa Jawi sing sregep. Kok anak Kanjeng Gusti Tumenggung ndak bisa bahasa Jawa toh.”
“Hehehe….”
Si Mbok pun pergi lagi ke belakang, meninggalkan Nden Ayu Anna yang terkekeh-kekeh sendiri di amben, seperti mentari yang meninggalkan hari dan membiarkan kirana tersenyum malam itu. Raganya yang sudah bongkok membuat langkahnya terlihat agak terseret.
“Nden Ayu. Nden Ayu.” []
A.M.A
Depok-Jakarta, 20-24 Januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar