Sabtu, 08 Januari 2011

Matinya Dewi Afrodit

Ketika bara rokokku yang bercumbu dengan seuntai asbak padam, sosok itu lamat-lamat terlihat dari kejauhan. Sesosok perempuan yang berjalan gemulai dari arah pintu itu memesona setiap mata. Membuai banyak lelaki seisi ruang café yang tak begitu luas ini. Rambutnya yang ikal panjang gulung-bergemulung, terempas angin yang berseliweran lewat.

     Ana namanya, terdengar bisik-bisik dari bangku sebelah. Sosok perempuan itu sudah terkenal di café ini, khususnya di pelanggan laki-laki. Ibarat dewi-dewi khayangan, Ana itu memiliki kecantikan Dewi Afrodit, ujar bangku belakangku. Kecantikannya memalingkan pandangan para lelaki di café ini, meskipun para lelaki itu telah mempunyai dewi-dewinya sendiri, tambahnya.

     Senja sedang terbelalak di garis cakrawala, kala Ana memilih kursi di pojok café. Diikatnya rambut yang ikal bergulung-gulung itu ke belakang, menampakkan juntai leher yang jenjang dan anggun. Cahaya mentari yang masuk dari kaca jendela memeluk leher itu, juga wajahnya. Dan rona wajah itu terlihat lebih cantik dibanding tadi.

     Seolah ada yang dilihatnya, matanya ia tujukan ke arah luar jendela. Sekilas, parasnya memang rupawan. Ana? Berapa umurnya kira-kira? Agak tergelitik memang untuk mencari-tahu itu. Tapi, ah itu hanya di angan-anganku saja. Tak lebih.

     Satu lagi sosok manusia memasuki café ini. Dan itu Nadia, sosok manusia yang sedari tadi kutunggu. Kekasihku. Ia celingukan di dekat pintu masuk. Setelah pandangannya dan pandanganku bertemu, ia melambaikan tangannya. Kemudian berlenggang ke arahku.

     Dengan cekatan ia menghindari tiap-tiap bangku yang berhimpitan, yang menghalangi perjalanannya. Sebagai model, menurutku mudah sekali melakukan itu dengan tubuh rampingnya.

     Diciumnya pipiku sebelah kanan dan kiri. Lalu duduk. Ia meletakkan barang bawaannya yang sebegitu rumit di atas meja dan kursi. “Sudah lama sayang?” ia bertanya.

     “Seperti yang kau kira,” jawabku singkat.

    Bisa dibilang aku dan Nadia jarang sekali bertemu, karena ia sibuk sekali dengan dunia permodelannya. Sedangkan aku berkejar-kejaran dengan deadline kantor yang tak punya toleransi. Maklumlah, sebagai kuli tinta di sebuah surat kabar harian, aku harus berlari kesana-kemari untuk mengais berita-berita hangat perpolitikan negara ini.

     Bisa dibilang aku dan Nadia hanya bisa bertemu sebulan dua kali. Pertama, pada tanggal lima awal bulan, dan tanggal 30 di penghujung. Yak! Tanggal 30, hari ini. Hari di mana kita akan menghabiskan malam dan mengunyah bintang-bintang. Hari ini.

*****

     “Aku berjanji padamu untuk menemuimu pada tanggal ke-30 di setiap bulannya, di tempat ini, di bangku ini,” tekan lelaki itu kepada kekasihnya. Keduanya duduk berhadap-hadapan di dekat jendela yang menghantarkan cahaya matahari dengan sapuan warna merah senjanya.


     Perempuan yang diajaknya bicara hanya termangu. Matanya memandang jauh ke dalam mata lelaki yang mengajaknya berbicara itu. “Bagaimana, sayang?” tambah lelaki itu. Kini bulir-bulir air mata tergenang di kelopak mata sang perempuan. Mereka jatuh satu-satu ke pipi yang putih merona itu.


     Keempat tangan yang sedari tadi saling menggenggam terangkat satu. Menghapus bulir-bulir mata yang mulai menetes di pipi perempuan yang wajahnya kini tertunduk bisu. Entah harus berkata apa aku, hati sang perempuan berbicara. Namun kata-kata itu tak terlontar keluar dari mulutnya. Dia hanya bisa mengisakkan tangis.


     “Aku akan menemuimu di café ini, di bangku ini, setiap tanggal 30. Aku berjanji.” Lelaki itu berikrar, disaksikan matahari dan angin. “Aku berjanji,” lelaki itu mengecup kedua punggung tangan perempuan itu, “aku berjanji, Ana.”

*****

Sambil bersandar di ranjang hotel, kurapatkan sebatang rokok di antara bibirku yang menyisakan seberkas bibirnya. Bibir Nadia. Sementara pemilik bibir itu terlelap tidur di sampingku.

     Dengan selimut berwarna abu-abu yang di mataku terlihat sangat hangat. Bukan panas seperti adeganku dengannya tadi. Melainkan hangat yang melindungi seluruh raga, bahkan hati sekalipun.

     Raganya menggeliat sesaat. Mungkin, mencari area yang lebih luas untuknya teman lelapnya. Sempat kuperhatikan kedua matanya yang selalu indah. Meski sedang tertutup. Meski. Kala kesadarannya sedang tak berada di sini. Bibirnya yang merah merekah itu, yang kucumbui tadi. Sangat manis.

     Kusingkirkan rambut-rambut halus yang menghalangi keningnya. Kukecup kening itu. Alangkah aku mencintainya. Nadia. Kuakui, sekalipun ia seorang perempuan yang dipenuhi kemewehan, tapi ia tak segan-segan mengutarakan perasaannya padaku waktu itu, yang notebene hanyalah seorang jurnalis yang tak punya uang.

     Layaknya anak kecil yang lugu, aku putar-putar rambutnya yang ikal itu. Rambut ikal yang terjuntai sampai punggung. Rambut yang gulung-gemulung menutupi sebagian buah dadanya. Ikal. Panjang.

     Sial ada yang terlupa, tapi apa?

*****

Benar saja. Dia duduk di singgasananya yang sama dengan kemarin lusa: di pojok café, dekat dengan jendela yang mengantarkan sinar mentari ke wajahnya. Kali ini pun ia persis duduk di tempat itu dengan memangku dagunya dengan sebelah tangan. Sementara yang sebelah lagi memegang sebatang rokok yang menyembulkan asapnya ke atas meja. Bergulung-gulung.

     “Maaf, Nona,” sapa seorang pria yang tiba-tiba datang.

     Dia tak menoleh. Namun wajah itu tetap rupawan sebagaimana mestinya. Seolah-olah sinar matahari enggan melepas wajahnya untuk menoleh.

     “Nona,” sapa pria itu untuk kedua kalinya.

     “Ah… iya,” jawabnya tergagap seakan tersadar ada sesosok makhluk berjenis kelamin pria di sampingnya, yang telah menyapanya dua kali. “Maaf, saudara siapa?” tambahnya.

     “Benar Nona bernama Ana Matlihova?” tanya pria berperawakan sedang itu. Seloroh pria itu menyodorkan tangannya, “perkenalkan, saya Cok.”

     Tangan kekar pria itu tak bersambut tangan Ana. Malah dia kembali memandang ke luar jendela. Ke jalanan yang menampilkan suasana malam, yang sepi-lengang.

    “Jika boleh saya tahu Anda sedang memandang apa, Nona Ana?” basa-basi pria itu dengan menarik salah satu kursi. “Apakah… sedang mencari sosok Tuan Lukas?” bisiknya kemudian tepat di samping telinga kanan Ana.

     Wajah itu seketika menoleh. Dengan mimik heran dan agak sedikit membentak ia balik bertanya kepada pria yang memakai topi pat hijau itu, “tahu dari mana kau tentang Lukas!?”

     “Saya…” lelaki itu memulai perbincangan, “tahu segalanya tentang Nona. Hal itu karena Nona Ana ini ialah kekasih dari Tuan Lukas. Maka dari itu, saya mengetahui segala tentang Nona. Juga Tuan Lukas.”

     “Tahu apa kau tentang Lukas!?” Bentak Ana kepada pria itu. Pria itu. Sangat terlihat parlente sekali. Dengan kemeja putih berkerah keras. Jaket panjang berwarna hijau tua. Hampir senada dengan topi pat-nya.

     “Sudah saya bilang tadi…” ia memantik api guna menyalakan tembakau yang sudah terpasang di pipanya, “…saya mengetahui dengan baik tentang Anda, maupun Tuan Lukas. Apa perlu saya bacakan?” Asap pun menari-nari di hadapan wajah Cok.
     Terlihat sangat tak sudi Ana mendengarkan ocehan pria itu. Dia kembali memalingkan wajahnya ke jendela. Mengarah ke luar. Ke jalanan malam yang sudah sepi-senyap dengan deru kendaraan.

     Entah hendak meraih apa, Cok, merogoh-rogoh saku dalam jaketnya. Dan mengambil beberapa carik kertas yang penuh akan coretan. Kemudian.

     “Ana Matlihova. Dilahirkan di Alitsat, 18 Januari 1985. Anda lulusan Institut Seni Alitsat, jurusan Seni Rupa Murni pengkhususan Seni Patung. Anda memiliki mata biru, karena Ibu Anda seorang ras Aria. Anda memiliki golongan darah O. Anda memiliki kekasih yang bernama Lukas Alaxander. Anda masih tinggal dengan Ibu Anda yang sudah berstatus janda, bukan. Apa perlu saya sebutkan alamatnya pula?” pria itu mengakhiri.

     Ana yang mengacuhkannya kini terbelalak.

     “Cukup!” Bentaknnya.

     Dia menarik lengan jaket pria yang bernama Cok itu. Badan Cok menjadi tertarik sedikit ke arah Ana. “Dari mana kau tahu semua itu, bajingan?” tanya Ana berbisik dengan nada yang terdengar seperti menahan amarah.

     Dengan santainya Cok menjawab, “sudah saya bilang tadi. Saya mengetahui dengan baik data diri Anda, Ana Matlihova. Juga Lukas Alexander. Sangat baik sekali.”

*****

Matahari sudah dijemput rembulan. Siang berganti malam. Dan tok.

     Seperti terlupa dengan sesuatu yang teramat penting, aku loncat dari sofa kantor yang membuatku tertidur. Kemudian dengan cepat aku menyambar kunci mobil dan jaketku yang tergeletak di atas meja.

     “Ana!” gumamku. “Semoga masih sempat.”

*****

     “Jadi Anda mau ikut saya atau tidak?”

     “Jelas tidak!” bentak Ana.

     “Jadi…” Cok mendekatkan badannya ke arah wanita itu, “…Anda memilih untuk menjenguk Lukas di sana?”

     “Bicara saja dengan gelas!” bentak Ana lagi sambil lalu. Sambil pergi meninggalkan Cok sendirian.
     “Jadi…”
     DOOORRR!!! Suara tembakan itu tepat mengenai kepala Ana yang tengah berjalan pergi.
     Suasana café itu seketika riuh tiba-tiba. Ada yang berteriak pistol, pistol. Ada yang berteriak-teriak tak jelas.
     Cok kemudian berdiri dari tempatnya duduk. Ia berjalan tenang menghampiri tubuh Ana yang tergelepar di lantai karpet yang berwarna merah.
     DOOORRR!!! Tembakan kedua. Tepat pula mengenai kepala Ana. Dan paras yang cantik rupawan itu langsung lebur. Pecah terburai.

     Sementara para pengunjung café banyak yang berlarian ke luar dengan jeritan minta tolong. Ada yang teriak ada pembunuhan, ada pembunuhan. Ada yang ditembak, dan masih banyak lagi teriakan lainnya.

     Pria yang bernama Cok itu kini tengah berdiri memandangi tubuh Ana yang sudah tak bernyawa lagi. Ia memandanginya dengan mendalam. Dengan pandangan iba. Di pikirannya, andai saja engkau mau ikut bersama saya. Wajahmu yang cantik tak akan menjadi cacat seperti ini. Maafkan saya Ana. Saya hanya melaksanakan tugas.

     Cok melepas jaket panjang yang dikenakannya. Ia gunakan untuk menutupi Ana Matlihova yang sudah tidak dapat berbicara lagi. Lalu ia melenggangkan langkahnya dengan tenang ke luar café.

     Sebagian pengunjung yang berlindung di bawah meja menunjuk-nujuk Cok sembari berkata pembunuh, pembunuh.

*****

“Maafkan aku, Ana. Andai saja waktu itu aku sadar lebih cepat bahwa kau adalah Ana yang sedang aku cari-cari dalam reportaseku. Kelak wajah cantikmu akan terus menghiasi café itu sampai sekarang. Ah, kini tidak ada lagi para lelaki yang memuja-mujamu sebagai Dewi Afrodit.”


     A.M.A
     Depok, 03-04 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar