Ini kisah yang pernah aku alami sewaktu aku masih kecil. Kelas empat sd lebih tepatnya. Mungkin cerita ini tak menarik bagi pembaca sekalian, tapi tak ada salahnya bukan jika aku bercerita sedikit di sini? Hitung-hitung berbagi kisah bagi pembaca sekalian yang budiman. Sebagai bahan pembelajaran, jika boleh mengutip orang-orang tua bilang.
Kisah ini terjadi tepat saat aku duduk di kelas empat sd. Di sebuah sekolah dasar yang aku lupa namanya, yang jelas sd-ku itu ada di daerah kota tingkat dua—itu yang kudengar dari salah seorang guru sd-ku, dan berstatus sd beragama. Soal agamanya apa tak begitu pentinglah, yang penting berbagi kisah bukan?
Kala itu panas menjilat-jilat hari. Dari langit menyembur terik matahari yang teramat-sangat. Hingga sekujur pakaianku dan teman-teman penuh akan peluh. Dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Dahi, leher, ketiak, dada, sela-sela paha pun tak tertinggal dikerubungi oleh keringat yang terus membanjir.
Memang salah kami yang tak membersihkan tempat peribadatan milik sekolah di pagi hari. Padahal kami tahu, pagi itu memang giliran kelompok kami yang bertugas. Namun karena bosan, kami berlima sepakat untuk sengaja datang telat ke sekolah hari itu, dan tidak mengerjakan tugas dari Bapak. Karenanya, aku dan beberapa teman terkena tulah. Seorang tua yang rambutnya telah memutih dan setengah botak, yang memakai jubah hitam dengan garis putih di lehernya, yang biasa kami panggil Bapak Busye, memerintah kami untuk membersihkan tempat peribadatan itu pada siang harinya, usai sekolah.
Kala itu hari enggan bersahabat dengan kami berlima. Aku, Frente, Tina, Jaqueline, dan Fritz, amat kewalahan membersihkan tempat peribadatan itu yang luasnya minta ampun. Bangku yang berjejer di sana-sini. Dari depan ke belakang. Kiri ke kanan. Mereka tak terhitung jumlahnya jari-jari tanganku dan jari-jari tangan Jaqueline. Panas-terik matahari masuk dari atap yang seluruhnya terbuat dari mika bening, yang jika malam hari akan terlihat jelas para bintang yang bersinar. Dan siang itu matahari seakan melambaikan tangannya kepada kami yang tengah kehausan.
Kami menanti seorang malaikat membawakan minum, Tuhan. Apa kau begitu tuli hingga tak mendengarkan jeritan hati kami? Padahal kau lihat sendiri, aku dan teman-teman sudah membersihkan rumahmu. Begitulah kira-kira doaku dalam hati, kepada Tuhan yang diajarkan Bapak Busye di kelas. Tuhan, dia yang sedang berdiri mematung dan bertelanjang dada di depan sana. Dingin sekali sikapnya. Huh! Brewok! Hardikku kemudian.
“Hei, anak-anak. Minum dulu!” Suara itu. Suara yang hanya dimiliki oleh penjaga kantin sekolah yang sangat baik sekali kepada anak-anak. Khususnya dengan kami berlima: Aku, Jaqueline, Tina, Frente, dan Fritz.
Dengan logat daerahnya yang khas dia memanggil kami yang sedang menyapu di sudut-sudut untuk datang ke arahnya. “Minum dulu!” tambahnya lagi. Asyik, asyik, asyik, teriak kami berlima sambil berlari. Bergegas kami berlima ke arahnya. Ke arah altar depan. Arah yang juga terdapat Tuhan sedang berdiri mematung di sana.
Kami berlima berebut limun yang sebenarnya ada sepuluh gelas. Tapi… Ah, sudahlah. Hal terpenting adalah kami tetap gembira kok. Aku meminum segelas limun itu sambil malu dengan Tuhan yang berdiri di depanku. Baru saja aku menghardik Tuhan karena aku kira ia tak mendengar doaku. Eh… tiba-tiba saja ada sepuluh gelas limun untuk lima orang. Rezeki, kalau kata Ayahku.
Maaf ya, Tuhan, tadi aku marah-marah sama kamu. Geli sendiri aku memikirkan hal yang sudah lewat tadi.
“Sebentar ya, Ibu mau ambil biskuitnya dulu,” sela Ibu Wein kepada kami yang sedang asik menikmati limun jeruk dingin. “Biskuit?” tanya kami serentak. “Bawa yang banyak ya, Bu Wein,” tambah kami kepadanya yang dengan susah payah berjalan keluar altar. “Tak masalah,” jawabnya parau.
Tanpa ada angin dan apa pun yang melintasi kepalaku. Tiba-tiba, “eh, Jeko.” Jeko, panggilan akrab kami kepada Jaqueline. “Tuhan apa tidak kedinginan ya telanjang begitu?” tanyaku kepadanya sambil menunjuk Tuhan yang sedari tadi tidak berbicara dan tidak kehausan.
“Ya enggaklah. Tuhan kan enggak kedinginan, karena kita selalu berdoa ke dia,” jawab Jeko lugu.
“Memang kamu tidak berdoa ke Tuhan?” tanyanya kemudian padaku yang sedang menyeruput gelas limun kedua.
“Nggg… Tuhan ini? Nggg… Enggak tuh. Soalnya di rumahku gak diajarin berdoa kepada Tuhan yang diajarin Bapak Busye. Di rumah, aku menyembah Tuhan yang diajarkan Ibu.
“Kamu gak pernah ikut doa di sini ya setiap minggu?” sela Frente dengan tergagap-gagap.
“Tuhan, tuh sayang sama kita, makannya bajunya dikasih kita semua supaya kita tidak kedinginan. Makannya dia telanjang,” tambah Fritz.
“Aku gak pernah berdoa di sini. Aku gak pernah diajarin Ibu doa kepada Tuhan yang itu,” belaku kesal, dengan jari telunjuk mengarah kepada Tuhan.
Seakan menengahi, Tina berteriak-teriak, “sudah-sudah,” dengan suara cemprengnya. Saat semuanya diam, Tina bertanya kepadaku, “memang cara doa kamu kaya apa, Lin?”
Keenambelasmata mengarah pada keempat mataku seluruhnya. Mata mereka tajam seperti ingin mengorek sesuatu yang terdalam dariku. Dengan keluguan anak kecil yang teramat-sangat, mereka merengek dan menarik-narik lengan kemejaku. Mereka meminta aku bercerita tentang caraku berdoa di rumah kepada Tuhan yang diajarkan Ibu.
“Iya, iya,” jawabku. “Tapi ingat, jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Rahasia.”
Mendengar kata rahasia, tangan mereka semua langsung menutup mulut secara serentak. Dan kemudian membisu, seperti Tuhan yang ada di depan sana, yang sedang melihat ke arah kami. “Ikuti aku ya… Eh, tapi biar adil, kita berdoanya menghadap Tuhan kalian ya.” Mereka hanya mengangguk saja, tanda sepakat.
Aku di depan sendiri, sedangkan Tina, Jeko, Frente, Fritz, berbanjar di belakang. Saat semua sudah siap di barisannya masing-masing, aku mengangkat kedua tanganku terbuka, masing-masing di samping telinga. Tak lupa merapal doa yang diajarkan Ibuku. Serentak mereka mengikuti gerakanku yang demikian. Kemudian aku menunduk, mereka pun menunduk. Saat kembali mengangkat badanku, sambil merapal doa yang berbeda, tiba-tiba, “ada Bapak Busye!”
Teriakan Fritz itu membuyarkan doaku dan teman-teman kepada Tuhan. Tuhan yang diajarkan oleh Pak Busye di kelas. Juga Tuhan yang diajarkan oleh Ibu di rumah. Dengan cepat kami menyambar sapu-sapu kami yang terkapar di lantai tadi, dan seolah-olah kami kembali bekerja. Padahal jika dilihat-lihat lagi, sudah tak ada debu yang menempel lantai.
Dengan muka dinginnnya, Pak Busye memerhatikan pekerjaan kami. Dengan badan yang telah bungkuk, diperhatikannya wajah kami satu-satu. Saat giliran wajahku, dia membentak, “jangan malas membersihkan rumah Tuhan jika giliranmu tiba!”
Setelah itu ia pergi dengan meninggalkan kedongkolan di hatiku. Mungkin kedongkolan itu masih tersisa sampai sekarang. Sampai pembaca yang budiman sekalian membaca kisah ini. Baik itu di koran, di pamflet-pamflet pasar, di jejaring sosial, di mana punlah pokoknya.
Seperti di awal tadi, mungkin kisahku di atas tidak penting bagi pembaca yang budiman sekalian. Tapi toh, tak ada salahnya kan berbagi kisah?
A.M.A
Depok, 04 Januari 2011
Memang salah kami yang tak membersihkan tempat peribadatan milik sekolah di pagi hari. Padahal kami tahu, pagi itu memang giliran kelompok kami yang bertugas. Namun karena bosan, kami berlima sepakat untuk sengaja datang telat ke sekolah hari itu, dan tidak mengerjakan tugas dari Bapak. Karenanya, aku dan beberapa teman terkena tulah. Seorang tua yang rambutnya telah memutih dan setengah botak, yang memakai jubah hitam dengan garis putih di lehernya, yang biasa kami panggil Bapak Busye, memerintah kami untuk membersihkan tempat peribadatan itu pada siang harinya, usai sekolah.
Kala itu hari enggan bersahabat dengan kami berlima. Aku, Frente, Tina, Jaqueline, dan Fritz, amat kewalahan membersihkan tempat peribadatan itu yang luasnya minta ampun. Bangku yang berjejer di sana-sini. Dari depan ke belakang. Kiri ke kanan. Mereka tak terhitung jumlahnya jari-jari tanganku dan jari-jari tangan Jaqueline. Panas-terik matahari masuk dari atap yang seluruhnya terbuat dari mika bening, yang jika malam hari akan terlihat jelas para bintang yang bersinar. Dan siang itu matahari seakan melambaikan tangannya kepada kami yang tengah kehausan.
Kami menanti seorang malaikat membawakan minum, Tuhan. Apa kau begitu tuli hingga tak mendengarkan jeritan hati kami? Padahal kau lihat sendiri, aku dan teman-teman sudah membersihkan rumahmu. Begitulah kira-kira doaku dalam hati, kepada Tuhan yang diajarkan Bapak Busye di kelas. Tuhan, dia yang sedang berdiri mematung dan bertelanjang dada di depan sana. Dingin sekali sikapnya. Huh! Brewok! Hardikku kemudian.
“Hei, anak-anak. Minum dulu!” Suara itu. Suara yang hanya dimiliki oleh penjaga kantin sekolah yang sangat baik sekali kepada anak-anak. Khususnya dengan kami berlima: Aku, Jaqueline, Tina, Frente, dan Fritz.
Dengan logat daerahnya yang khas dia memanggil kami yang sedang menyapu di sudut-sudut untuk datang ke arahnya. “Minum dulu!” tambahnya lagi. Asyik, asyik, asyik, teriak kami berlima sambil berlari. Bergegas kami berlima ke arahnya. Ke arah altar depan. Arah yang juga terdapat Tuhan sedang berdiri mematung di sana.
Kami berlima berebut limun yang sebenarnya ada sepuluh gelas. Tapi… Ah, sudahlah. Hal terpenting adalah kami tetap gembira kok. Aku meminum segelas limun itu sambil malu dengan Tuhan yang berdiri di depanku. Baru saja aku menghardik Tuhan karena aku kira ia tak mendengar doaku. Eh… tiba-tiba saja ada sepuluh gelas limun untuk lima orang. Rezeki, kalau kata Ayahku.
Maaf ya, Tuhan, tadi aku marah-marah sama kamu. Geli sendiri aku memikirkan hal yang sudah lewat tadi.
“Sebentar ya, Ibu mau ambil biskuitnya dulu,” sela Ibu Wein kepada kami yang sedang asik menikmati limun jeruk dingin. “Biskuit?” tanya kami serentak. “Bawa yang banyak ya, Bu Wein,” tambah kami kepadanya yang dengan susah payah berjalan keluar altar. “Tak masalah,” jawabnya parau.
Tanpa ada angin dan apa pun yang melintasi kepalaku. Tiba-tiba, “eh, Jeko.” Jeko, panggilan akrab kami kepada Jaqueline. “Tuhan apa tidak kedinginan ya telanjang begitu?” tanyaku kepadanya sambil menunjuk Tuhan yang sedari tadi tidak berbicara dan tidak kehausan.
“Ya enggaklah. Tuhan kan enggak kedinginan, karena kita selalu berdoa ke dia,” jawab Jeko lugu.
“Memang kamu tidak berdoa ke Tuhan?” tanyanya kemudian padaku yang sedang menyeruput gelas limun kedua.
“Nggg… Tuhan ini? Nggg… Enggak tuh. Soalnya di rumahku gak diajarin berdoa kepada Tuhan yang diajarin Bapak Busye. Di rumah, aku menyembah Tuhan yang diajarkan Ibu.
“Kamu gak pernah ikut doa di sini ya setiap minggu?” sela Frente dengan tergagap-gagap.
“Tuhan, tuh sayang sama kita, makannya bajunya dikasih kita semua supaya kita tidak kedinginan. Makannya dia telanjang,” tambah Fritz.
“Aku gak pernah berdoa di sini. Aku gak pernah diajarin Ibu doa kepada Tuhan yang itu,” belaku kesal, dengan jari telunjuk mengarah kepada Tuhan.
Seakan menengahi, Tina berteriak-teriak, “sudah-sudah,” dengan suara cemprengnya. Saat semuanya diam, Tina bertanya kepadaku, “memang cara doa kamu kaya apa, Lin?”
Keenambelasmata mengarah pada keempat mataku seluruhnya. Mata mereka tajam seperti ingin mengorek sesuatu yang terdalam dariku. Dengan keluguan anak kecil yang teramat-sangat, mereka merengek dan menarik-narik lengan kemejaku. Mereka meminta aku bercerita tentang caraku berdoa di rumah kepada Tuhan yang diajarkan Ibu.
“Iya, iya,” jawabku. “Tapi ingat, jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Rahasia.”
Mendengar kata rahasia, tangan mereka semua langsung menutup mulut secara serentak. Dan kemudian membisu, seperti Tuhan yang ada di depan sana, yang sedang melihat ke arah kami. “Ikuti aku ya… Eh, tapi biar adil, kita berdoanya menghadap Tuhan kalian ya.” Mereka hanya mengangguk saja, tanda sepakat.
Aku di depan sendiri, sedangkan Tina, Jeko, Frente, Fritz, berbanjar di belakang. Saat semua sudah siap di barisannya masing-masing, aku mengangkat kedua tanganku terbuka, masing-masing di samping telinga. Tak lupa merapal doa yang diajarkan Ibuku. Serentak mereka mengikuti gerakanku yang demikian. Kemudian aku menunduk, mereka pun menunduk. Saat kembali mengangkat badanku, sambil merapal doa yang berbeda, tiba-tiba, “ada Bapak Busye!”
Teriakan Fritz itu membuyarkan doaku dan teman-teman kepada Tuhan. Tuhan yang diajarkan oleh Pak Busye di kelas. Juga Tuhan yang diajarkan oleh Ibu di rumah. Dengan cepat kami menyambar sapu-sapu kami yang terkapar di lantai tadi, dan seolah-olah kami kembali bekerja. Padahal jika dilihat-lihat lagi, sudah tak ada debu yang menempel lantai.
Dengan muka dinginnnya, Pak Busye memerhatikan pekerjaan kami. Dengan badan yang telah bungkuk, diperhatikannya wajah kami satu-satu. Saat giliran wajahku, dia membentak, “jangan malas membersihkan rumah Tuhan jika giliranmu tiba!”
Setelah itu ia pergi dengan meninggalkan kedongkolan di hatiku. Mungkin kedongkolan itu masih tersisa sampai sekarang. Sampai pembaca yang budiman sekalian membaca kisah ini. Baik itu di koran, di pamflet-pamflet pasar, di jejaring sosial, di mana punlah pokoknya.
Seperti di awal tadi, mungkin kisahku di atas tidak penting bagi pembaca yang budiman sekalian. Tapi toh, tak ada salahnya kan berbagi kisah?
A.M.A
Depok, 04 Januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar